DENPASAR, BALIPOST.com – Upacara pelebon almarhum Ida Pedanda Nabe Gede Putra Telabah dilaksanakan bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila di Setra Agung Badung, Kelurahan Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat, Selasa (1/10). Ritual dilakukan dari rumah duka di Jalan Thamrin menuju Setra Badung.

Arak-arakan jenasah almarhum diiringi sejumlah pelayat dari kalangan pramuka serta civitas akademika Universitas Udayana dan tokoh puri dan griya, serta warga Banjar Pemedilan, Kelurahan Pemecutan, Kecamatan Denpasar Barat.  Upacara dirangkai dengan Apel Persada yang digelar anggota gerakan Pramuka.

Apel Persada dihadiri Julius SJ sebagai Wakil Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) sekaligus sebagai Ketua Aset dan Usaha. Ia menyerahkan penghargaan tertinggi gerakan pramuka yakni Lencana Melati kepada Ida Pedanda Nabe Gede Putra Telabah.

Di samping itu Ketua Kwarda Bali, Dewa Made Indra dalam kesempatan tersebut juga memberikan sambutan untuk mengajak seluruh anggota gerakan Pramuka melanjutkan perjuangan dan cita-cita almarhum di gerakan Pramuka.

Sebagai apresiasi atas jasanya, almarhum menerima berbagai penghargaan dari berbagai institusi, baik dari World Health Organization (WHO) sekaligus perhargaan dari Universitas Udayana serta penganugerahan penghargaan tertinggi Satya Lencana Melati dalam gerakan Pramuka.

Baca juga:  Permaisuri Raja Denpasar IX Lebar, Dipalebon 14 November

Sebelum mediksa, almarhum merupakam guru besar Unud, Prof. DR. dr. Ida Bagus Ngurah Narendra, MPH., Ph.D. Almarhum meninggalkan seorang istri yakni Ida Pedanda Istri Mayun dan empat orang anak, 14 cucu serta 5 orang cicit.

Almarhum sempat menempuh pendidikan Sekolah Rakyat 2 pemecutan, SMP Negeri Denpasar, SMN Singaraja, SMA Negeri 2 B Surabaya, menempuh Sarjana di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (S1), menempuh pendidikan S2 di Hawaii/Honolulu School Publich Health, pernah menempuh pendidikan di University of Philipines, menempuh pendidikan di College of Public Health di Manila (S3) pada tahun 1986, Dan menerima gelar guru besar di Universitas Udayana pada tahun 1986.

Putra ketiga almarhum, Ida Bagus Ugrasena Narendra mengatakan almarhum menjadi sosok panutan dengan kesederhanaannya. “Beliau memiliki prinsip yang tidak banyak orang miliki,” kata Ugrasena.

Meski demikian, prinsip dan kesederhanaan almarhum menjadi kebanggaan bagi keluarga dan panutan sebagai generasi penerus almarhum. Semasa hidup almarhum sering meminta anak-anak almarhum untuk membacakan Dharma Sunia. (Suryawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.