Ilustrasi. (BP/ant)

Kejadian di Papua baru-baru ini merupakan ujian terbaru bangsa menghadapi ancaman disintregrasi bangsa. Ini juga menjadi tolok ukur kemampuan bangsa ini mengatasi berbagai konflik kebangsaan. Jika kita susuri dan dalami sejarah telah mencatat, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sudah susah payah dibangun, bibit-bibit perpecahan itu selalu ada, yang terpenting adalah jangan biarkan hidup dan berkembang.

Ini sangat berbahaya. Paham radikal dengan bertopeng keagamaan tidak akan membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Justru sebaliknya. Tidak hanya mengkhianati cita-cita para pendiri bangsa, tetapi secara jelas dan terbukti bahwa hal tersebut tidak laku dan justru membawa kehancuran di beberapa negara.

Ini semakin meneguhkan sikap bangsa Indonesia, bagaimana sejatinya kita sudah punya kekuatan ideologis nasionalis yang sangat kuat. Kita sudah diberikan wasiat serta harta yang tidak ternilai harganya. Pelihara dan kembangkanlah. Bagaimana caranya? Tentu dengan integritas antara semua komponen bangsa.

Menjaga rasa toleransi dan membangun rasa kesadaran berbangsa satu bahasa, satu bangsa dan satu tanah air. Pemerintah ada di depan dengan segala otoritas serta kemampuan yang sudah didelegasikan oleh rakyat. Pemerintah sudah punya mandat. Wakil sudah punya mandat absolut yang diperolehnya dari rakyat. Kombinasi ini sudah lebih dari cukup sebenarnya untuk mengamankan negeri.

Tetapi, di tengah perjalanan tentu ada godaan. Banyak oknum yang sudah melenceng. Sudah keluar dati rel-rel komitmen awal. Sudah menafikan kebesaran cita-cita bersama. Namun, kita harus tetap setia mengawal ideologi Pancasila.

Ideologi yang telah menyatukan 1.331 kelompok suku yang ada di negeri ini. Menyatukan lebih dari 268 juta jiwa penduduknya. Kita harus membangun jati diri dan menjadikan nasionalisme sebagai spirit mengawal NKRI. Sedangkan bagi mereka yang berkhianat tentu saja sejatinya tidak ada toleransi.

Baca juga:  Kehadiran Negara di Hati Siswa

Pemerintah mesti tegas. Penegakan hukum yang sangat-sangat tegas dan keras diperlukan. Diplomasi sosial dan diplomasi politik mungkin saja dibangun sepanjang itu tidak dalam bentuk kompromi atas ideologi kebangsaan.

Negara harus kuat. Sendi-sendi negara jangan dibiarkan digerogoti. Jangan dibiarkan. Ini menyangkut kewibawaan seorang kepala negara dan jajarannya. Ini menyangkut kehormatan suatu bangsa. Jangan biarkan.

Gangguan internal dan eksternal itu sudah pasti ada. Ini tidak hanya dinamika politik, ini dinamika kehidupan. Sepanjang kita bisa jalan lurus, tentu segala ancaman serta rintangan itu bisa dilalui dengan selamat.

Ingat, godaan semakin berat di depan. Semakin hari dan bahkan semakin mengarah ke hitungan jam, menit, atau bahkan detik. Ini bukan berlebihan. Segala macam cara digunakan. Kekuatan media sosial digunakan untuk menyebarkan fitnah, ujaran kebencian, hoax dan sebagainya. Ini hitungannya detik.

Mereka cepat dan kita mestinya jauh lebih cepat. Mereka juga kuat dan harusnya kita jauh lebih kuat. Kita tengah berpacu. Tidak ada istilah diam. Mereka tidak pernah diam untuk terus merongrong. Kita juga tidak akan pernah diam untuk melawan, melawan dan kita mestinya melibas mereka sampai ke akar-akarnya.

Itu tentu perlu modal dan tekad kuat. Tegakkan komitmen dan tegakkan supremasi hukum. Tidak ada yang akan berani coba-coba kalau kita kuat dan teguh pendirian. Tidak akan ada yang berani petantang-petenteng kalau kita selalu siap siaga.

Dasarnya harus kuat, Pancasila serta kesadaran bahwa kebinekaan itu justru akan memperkuat kita. Tanggung jawab mengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dibangun. Kesadaran ini seharusnya menjadi spirit kita bernegara. Oleh karenanya, perbedaan kepercayaan, suku, ras dan golongan jangan sampai menghancurkan persatuan dan kesatuan kita sebagai anak bangsa. Kita mesti tetap bersatu dan saling menghargai.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.