Gde Sumarjaya Linggih (Demer) bersalaman saat perayaan HUT Partai Golkar ke-54. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kabar duka datang dari Plt. Ketua DPD Golkar Bali Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer. Pasalnya, sang istri Ayu Onik Mindawati meninggal dunia karena sakit kanker rektum (usus), Senin (16/9). Di saat-saat terakhirnya, almarhumah yang akrab disapa Onik tersebut memberikan tiga pesan menyentuh untuk sang suami.

“Ada pesannya. Satu, jaga emosi, kedua, jaga makanan, ketiga, banyak sembahyang,” kata Demer menirukan pesan terakhir istrinya.

Demer tampak tegar saat menceritakan ihwal penyakit sang istri. Walau saat tahu almarhumah Onik terkena kanker dan kemudian berobat ke Singapura, ia sempat kaget karena kemungkinan untuk survive dikatakan hanya 20-30 persen. Demer tak menyerah, lalu mencari alternatif pengobatan cell cure di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. “Akhirnya kami ke sana. Tiap bulan harus disuntik. Walaupun harganya mahal dan tidak bisa asuransi, kami jalani selama tiga bulan,” imbuhnya.

Lantaran tidak ada perubahan, Demer lantas mengajak sang istri ke Guangzhou, Tiongkok. Tapi ternyata pola pengobatan di negeri Tirai Bambu itu sama dengan Singapura. Akhirnya sang istri yang juga adik kandung Anggota DPRD Bali dari Golkar, IGK Kresna Budi, kembali diajak berobat ke Singapura.

“Di Singapura enam kali kemo sudah membaik dan mengecil. Ada dua pilihan kemudian, diradiasi atau dioperasi langsung, tapi waktu itu istri saya pilih radiasi. Radiasi itu boleh di Jakarta, boleh di Singapura,” jelasnya.

Menurut Demer, radiasi dilakukan selama 5 menit sehari selama 28 hari. Pengobatan dilakukan di Jakarta. Tapi baru empat kali radiasi, di rongga perut sang istri ada cairan. Demer mengaku tidak tahu, apakah cairan itu karena salah penyinaran atau ketika disinar, kanker cepat menyebar. Di hari ke-6 dan 7, cairan pun semakin banyak. Sang istri lalu dibawa lagi ke Singapura.

Baca juga:  Diversi Gagal, Kasus Kekerasan Terhadap Siswa SMP Segera Disidangkan

“Satu setengah bulan mereka (dokter di Singapura-red) coba pengobatan, akhirnya mereka menyerah juga. Setelah menyerah, akhirnya tinggal memanage kesakitan. Boleh dilakukan di Singapura sama di Bali. Akhirnya istri saya, ya sudah lah kalau memang begitu, di Bali saja,” katanya.

Demer mengaku sudah pasrah ketika pulang dari Singapura. Sampai kemudian sang istri dirawat di RS BROS, Denpasar, selama tiga minggu dan akhirnya menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 03.00 dini hari. Lantaran di Buleleng, kampung halaman Demer sedang berlangsung odalan hingga Purnama Kapat, sang istri akhirnya disemayamkan di rumah duka Jalan Tunjung 1 No.11, Banjar Pengipian, Kuta Utara, Badung.

“Kami akhirnya memutuskan untuk makinsan di geni pada 23 September di Denpasar, mungkin kami masih coba cek di Mumbul. Lanjutan upacaranya setelah Purnama Kapat di Tajun (Buleleng),” tutupnya.

Almarhumah Onik yang lahir 25 Mei 1971 meninggalkan suami, empat anak yakni Ayu Denisa Linggih, Ayu Karina Linggih, A.B. Pratiksa Linggih, dan A.B. Arsadhana Linggih, serta satu orang cucu. Sang kakak, IGK Kresna Budi, mengatakan, adiknya telah diketahui sakit sejak setahun lalu. “Tiba-tiba baru diketahui kanker usus sudah stadium 4,” ungkapnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.