DENPASAR, BALIPOST.com – Sejumlah anak tukang suwun dari Yayasan Lentera Anak Bali (LAB) belajar membuat pastry yaitu brownies, risoles dan hotdog pada Minggu (8/9) di Bali Pastry College, Jalan Hasanudin, Denpasar. Puluhan anak tukang suwun ini berasal dari Karangasem yang ibunya bekerja sebagai tukang suwun di Pasar Badung.

Sementara ibunya bekerja, mereka diajak mengikuti pelatihan membuat kue. Tujuannya agar mereka termotivasi dan terinspirasi menjadi profesional dan memiliki cita-cita yang tinggi.

Sebelumnya Pengurus LAB Luh Anggreni menuturkan ketika ditanya cita-cita, anak-anak tersebut kebanyakan menjawab menjadi tukang parkir, tukang bangunan untuk anak laki dan anak perempuan menjadi cewek spa. Cita-cita sederhana itu membuat pihaknya tertegun dan berupaya untuk memotivasi mereka.

Salah satunya adalah Jimat Jewellery, Kunang Jewellery dan Pojok Baca Rusa. Mereka berkolaborasi mengajak anak-anak tukang suwun untuk mengikuti pelatihan membuat pastry. Chef Bara Pattiradjawane yang memberikan pelatihan itu.

Creator Jimat, Arie Triono mengungkapkan program ini merupakan program ketiga. “Kami mengajak anak-anak kecil yang berusia sekitar 12-14 tahun, SD dan SMP. Ada yang sekolah dan ada yang tidak sekolah. Sehari-harinya mereka membantu orang tua bekerja sebagai tukang suwun di Pasar Badung,” tuturnya Minggu (8/9).

Baca juga:  Kue Bolen dari Ikan Laut

Hasil dari program membuat pastry itu, membuat Chef Bara takjub karena hasil masakan mereka enak. “Brownies kukusnya sangat enak dan mereka bisa menggoreng risoles dengan sangat bagus,” ungkapnya.

Ia berharap dari program ini, anak-anak terinspirasi menjadi pengusaha atau membuka usaha kecil-kecilan, seperti membuka warung, memasak kue, atau berjualan sendiri. “Jadi mereka bisa menghasilkan uang dan akhirnya menghidupi ekonomi keluarganya di masa depan,” harapnya.

Memang, program ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada anak-anak ini. Bahwa ada pekerjaan-pekerjaan yang belum terpikirkan oleh mereka.

Pada akhirnya dapat menginsipirasi mereka menjadi seorang professional. Salah satunya menjadi chef.

Di dalam workshop itu, Chef Bara juga membagikan pengalaman bahwa memasak itu dimulai dari suka dan senang melakukannya. Karena jika dilakukan dengan senang, hasilnya akan maksimal.

Sebelumnya, anak-anak tersebut diajak membuat arang untuk menggambar charcoal bertempat di cush cush gallery. Dari arang itu, mereka menggambar.

Tujuannya untuk mengeksplorasi kreativitas mereka dan memotivasi mereka dan menggali potensi mereka juga. Selain itu mereka juga diajak mengikuti workshop keramik di Tegalalang. “Hasilnya sangat mengagumkan, mereka sangat berbakat dan mereka punya sense of art tinggi, kami impresif dengan hasilnya,” ungkap Ari. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.