akomodasi
Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan dari 5,75 persen menjadi 5,50 persen. Penurunan ini membuat perbankan menghadapi dilema.

Sebab, menurut Pengamat Ekonomi dan Perbankan Viraguna Bagus Oka, LDR (loan to deposit ratio) perbankan hampir 80 persen, yang berarti rasio antara dana yang diterima dengan dana yang disalurkan porsinya 80 persen. “Itu  artinya lebih banyak DPK (Dana Pihak Ketiga),” ungkapnya.

Dengan adanya penurunan suku bunga ini, bank khawatir terjadi pemindahan dana atau penarikan dana oleh nasabah untuk ditempatkan di tempat investasi yang lain. Atau digunakan untuk usaha, mengingat potensi usaha semakin lebar dan mudah. “Sementara begitu, orang mau narik uangnya, ini masih dipakai untuk memberi kredit pada nasabah yang lain,” cetusnya.

Baca juga:  2018, Pertumbuhan Kredit Perbankan Nasional Terbaik Sejak 4 Tahun Terakhir

Maka dari itu, ia mengatakan perbankan saat ini dalam posisi yang paling menyulitkan. Dalam situasi ini, perbankan harus melakukan efisiensi besar-besaran.

Paling tidak untuk menekan lending rate. Karena komponen penting dari harga uang yang dijual (cost of money) adalah keuntungan, profisi, komisi.

Regulator, menurutnya, perlu langkah luar biasa untuk memperbaiki kondisi perbankan ini. Misalnya diberikan aturan yang memperlunak kredit yang tertunggak sekian bulan, tidak masuk NPL atau diberikan KUR. Selain itu perbankan juga perlu dibantu namun dipilih dan dipilah perbankan yang sehat. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.