Sekolah
Suasana belajar mengajar di sekolah. (BP/dok)

Sejak Mendikbud dijabat oleh Wardiman, kita sudah mengenal namanya sekolah sebagai pusat kebudayaan. Ini memiliki makna yang luas sebagai wujud pelestarian dan pengembangan kebudayaan dimulai dari sekolah. Kini, kita mengenal namanya ekstra pengembangan diri berbasiskan kearifan lokal.

Di Bali semua sekolah sejak dulu sudah menjalankan program kearifan lokal. Lihat saja sekolah di bawah naungan YPLP PGRI Kota Denpasar mengenal program Rabu berbahasa Bali dan Jumat berbahasa Inggris. Jelas kandungan lokalnya. Demikian juga hampir semua sekolah di Bali memiliki program budaya. Mereka menyebut dengan gebyar budaya, pentas seni alias pensi atau juga disebut gebyar kreativitas. Semua isinya adalah budaya kearifan lokal.

Sebut saja ada lomba tari, sastra Bali dan nasional, membuat jajan, lomba ngelawar, lomba membuat gebogan dan canang sari, dll. yang semuanya bernapaskan Bali. Mungkin agenda ini yang memberi inspirasi Mendikbud Muhajir Efendi saat ini membuat program full day school yang dia sebut sebagai program pengembangan diri dan pendidikan karakter untuk setiap Sabtu.

Makanya sekolah yang menyelenggarakan full day school jam belajarnya diperpanjang mulai pukul 07.15 Wita s.d. 14.15 Wita. Mata pelajaran yang mestinya diajarkan Sabtu dipadatkan di lima hari kerja lainnya.

Suasana ini sudah lumrah bagi Bali, makanya sekolah di Bali tak masalah dengan full day school ini berikut program pengembangan dirinya karena sudah biasa melakoni. Bahkan kini tiap purnama juga diisi dengan sepesial hari Bali yakni kegiatan bernuansa emosional dan spiritual.

Belajar lima hari efektif ini barang kali yang dimaksudkan oleh menteri itu adalah supaya konsentrasi dan pembinaan anak dapat dilakukan secara maksimal agar karakter dan kecerdasan anak lebih bagus. Anak-anak akan lebih mampu menguasai emosi, memecahkan masalah dan mengerti tentang kebutuhan masa depan bangsa dan negara.

Baca juga:  Gempa 5,4 SR, Siswa Sejumlah Sekolah Pulang Awal

Meskipun demikian, kesan menteri baru dengan kebijakan baru, sudah mulai kelihatan. Bahkan ini lebih mendasar lagi yang menyentuh kehidupan sosial masyarakat. Jadi, tidak keliru apabila kemudian banyak muncul pertanyaan dan tanggapan kontra dari masyarakat.

Masalah pendidikan dasar dan menengah, seperti yang menjadi tanggung jawab Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, merupakan akar penentu dari kondisi bangsa dan negara. Ini disebabkan, semua sikap, perilaku, dan perkembangan kecerdasan manusia bersumber dari pendidikan dasar dan menengah tersebut. Membentuk kepribadian seseorang, hal yang menjadi penentu masa depan mereka, ditentukan dari pendidikan yang paling dasar.

Jika kita menyadari pentingnya sekolah sebagai pusat kebudayaan, kita mesti mendukung semua kebijakan Kemendikbud. Di Bali, kita yakin sudah berjalan, namun di daerah lain mungkin belum. Sebab, untuk mengajarkan pendidikan karakter dan kearifan lokal memerlukan penyediaan SDM gurunya, demikian juga LPTK yang menghasilkan guru dimaksud.

Di sekolah kita bisa menemukan SDM andal dan membangun pendidikan karakter lewat budaya dan kearifan lokal. Sekolah adalah tempat berkumpulnya SDM pencinta seni dan budaya sejak dini.

Sekolah juga memberi ruang bagi mereka guna menunjukkan prestasi dan potensi pendidikan budaya dan karakter. Di sekolah pula dikembangkan budaya kearifan lokal yang akhirnya melahirkan seniman ulung dan lain-lain. Dan, Bali sudah melakukan hal itu sejak lama. Berbahagialah untuk Bali.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.