Warga berupaya memadamkan kebakaran di Pura Puseh Desa Adat Banyubiru. (BP/istimewa)

NEGARA, BALIPOST.com – Kebakaran di Pura Puseh Desa Pakraman Banyubiru yang terjadi Senin (3/9) sore masih didalami pihak kepolisian. Penyelidikan dilakukan guna mengetahui pasti penyebab kebakaran yang menghanguskan lima palinggih di Utama Mandala dan satu palinggih di Madya. Sejumlah pihak dimintai Polsek Kota Negara, termasuk warga di sekitar lokasi yang sempat membakar sampah.

Kapolsek Kota Negara Kompol I Ketut Maret, Selasa (3/9) mengatakan polisi memanggil untuk dimintai keterangan sejumlah saksi. Termasuk salah seorang warga yang sempat membakar sampah di dekat Pura.

Polisi belum dapat memastikan bahwa pemicu api yang awalnya membakar atap palinggih dari sisa pembakaran sampah itu. Meski belum bisa dipastikan akibat bekas pembakaran sampah, polisi juga telah memastikan bukan akibat dupa.

Selain pemeriksaan saksi, polisi juga akan melakukan pemeriksaan di lokasi. Termasuk sisa pembakaran sampah yang diduga pemicu api. “Kami masih mendalami (penyelidikan). Nanti kita sampaikan terbuka hasilnya,” terang Maret.

Sementara itu, musibah kebakaran di Pura yang baru ngenteg linggih 2014 lalu itu juga mengundang perhatian Bupati Jembrana I Putu Artha. Bupati didampingi sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Camat Negara, I Wayan Andi Suka Anjasmara mengecek langsung ke lokasi.

Hingga kemarin saat dicek, sisa atap pelinggih yang terbakar masih berserakan. Puing-puing yang masih berdiri di atas bebaturan pelinggih yang berasal dari kayu yang diukir dengan polesan peradanya seperti, meru tumpang tiga, meru tumpang pitu, bale pepelik pelinggih ulun danu, taksu serta pelinggih Sri Sedana yang ada di madya mandala juga sebagiannya terlihat hancur.

Baca juga:  Diduga Lupa Matikan Dupa, Rumah Kebakaran

Dengan kejadian kebakaran ini, Bupati I Putu Artha mengingatkan, krama dan para tokoh masyarakat untuk selalu waspada dan jangan mudah terpancing bahkan terprovokasi. “Tunggu hasil penyelidikan kepolisian. Jangan terprovokasi hal-hal menyesatkan. Saya minta musibah ini agar dijadikan pengalaman pertama dan terakhir kalinya,” harapnya.

Bupati Artha juga menyebut untuk jangka pendek, perlu dilakukan langkah-langkah baik secara sekala dan niskala. “secara sekala saya harapkan krama segera melakukan pembersihan terhadap sisa-sisa bangunan yang berserakan ini. Langkah yang paling penting untuk dilakukan yakni, melakukan pembersihan secara niskalanya,” terang Artha.

Bupati juga berharap sisa-sisa bangunan yang masih baik agar dimanfaatkan asalkan terlebih dahulu dilakukan pembersihan secara niskala berdasarkan petunjuk Sulinggih.

Sementara Bendesa Pekraman Banyubiru, Nyoman Jaya Drata mengatakan krama desa pekraman dalam waktu secepatnya akan segera melakukan upaya perbaikan baik secara sekala dan niskala. “Ini musibah bagi krama desa kami. Setelah dilakukan paruman pemucuk (tokoh) dan petunjuk Sulinggih, maka Ida Betara segera di “linggihan”(dibuatkan tempat khusus) di utama mandala dengan disertai dasar upakara,” terangnya.

Selain itu, akan dilaksanakan “Guru Piduka Agung” dengan dasar upakara caru asu (anjing) blang bungkem termasuk pengerapuh serta pengaci setiap hari purnama. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.