Sejumlah wisatawan berkunjung ke Puri Anom Tabanan. (BP/bit)

Oleh I Putu Putra Astawa

ICT menjadi core dari revolusi industri 4.0 telah mengubah cara wisatawan yang akan melakukan perjalanan, mulai dari mencari dan melihat informasi (look), memesan paket wisata yang diminati (book) hingga membayar secara online (pay). Gaya hidup masyarakat yang bergerak cepat dan bersentuhan langsung dengan internet, menyebabkan model promosi digital, kini sangat relevan diaplikasikan demi menumbuhkan citra yang baik.

Pulau Bali sebagai salah satu tujuan wisata dunia, dikenal dengan berbagai julukan seperti. 1) Pulau Seribu Pura (The Island of Thousand Temples), karena hampir tiap pekarangan rumah penduduk yang beragama Hindu terdapat sebuah pura. Ketika kita pergi ke suatu tempat di Bali pasti terlihat bangunan pura juga. 2) Pulau Dewata (The Island of Gods), karena kentalnya budaya Hindu, seperti banyaknya sesaji yang dipersembahkan untuk dewata penjaga di berbagai tempat di Bali. 3) Pulau Surga (The Island of Paradise) Bali memang cocok diberikan kepada Pulau Bali karena memiliki keindahan alam yang tidak akan ditemui di tempat lain. Keindahannya seperti layaknya sebuah surga.

Begitu banyak julukan Pulau Bali yang terkenal, masih banyak julukan lainnya yang patut disandang oleh pulau yang berada di timur Pulau Jawa ini, seperti  Pulau Damai yang Menarik (The Intresting Peacefull Island) karena keramahtamahan penduduknya, museum hidup karena tiap sudut Pulau Bali menawarkan keindahan dan ciri khas tersendiri serta layak untuk dinikmati, dan julukan yang lainnya.

Perkembangan pariwisata ini memang banyak memengaruhi tata kehidupan orang Bali. Berbagai pengaruh luar banyak masuk, dengan dibentengi oleh ajaran agama dan aturan adat yang kuat, diharapkan pengaruh negatif yang ditimbulkan bisa diminimalisasi, banyaknya penduduk pendatang dari luar pulau yang tidak terkontrol dengan baik, tentu akan membawa pengaruh yang kurang baik juga.

Namun, melajunya wisata Bali lebih banyak membawa imbas yang lebih baik. Sebagai daerah pariwisata, tentunya karena Bali memiliki banyak objek wisata menarik, begitu juga dengan hasil kreasi budayanya mempunyai nilai seni tinggi, adat istiadat, tradisi unik juga keramahtamahan penduduk setempat sehingga menambah minat wisatawan untuk mengunjungi pulau kecil ini.

Pariwisata Bali berkembang dengan baik tidak hanya karena pemandangan alam yang indah, tetapi juga dengan keragaman budaya, tradisi, seni, keyakinan beragama, dan keramahtamahan penduduknya.

Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali nomor 2 tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya Bali, konsep kepariwisataan di Provinsi Bali adalah kepariwisataan Bali yang berlandaskan kepada kebudayaan Bali yang dijiwai oleh ajaran Agama Hindu dan falsafah Tri Hita Karana sebagai potensi utama dengan menggunakan kepariwisataan sebagai wahana aktualisasinya, sehingga terwujud hubungan timbal balik yang dinamis antara kepariwisataan dan kebudayaan yang membuat keduanya berkembang secara sinergis, harmonis, dan berkelanjutan untuk dapat memberikan kesejahteraan kepada masyarakat, kelestarian budaya dan lingkungan.

Tri Hita Karana merupakan falsafah hidup masyarakat Bali yang memuat tiga unsur yang membangun keseimbangan dan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkungannya yang menjadi sumber kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan bagi kehidupan manusia.

Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali dilaksanakan berdasarkan pada asas manfaat, kekeluargaan, kemandirian, keseimbangan, kelestarian, partisipatif, berkelanjutan, adil, dan merata, demokratis, kesetaraan dan kesatuan yang dijiwai oleh nilai-nilai Agama Hindu dengan menerapkan falsafah Tri Hita Karana. Bagaimana menjaga budaya Bali yang merupakan akar dari pariwisata di Provinsi Bali pada era Revolusi Industri 4.0? Hal ini tentu menjadi tanggung jawab kita bersama, mencari solusi yang tepat dalam mempertahankan eksistensi dan kelestarian budaya Bali untuk generasi sekarang maupun generasi masa depan, dengan tetap mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi  yang semakin pesat.

Baca juga:  Tumpek Uduh, Perkuat Budaya Lokal

Dalam menjaga eksistensi pariwisata Bali berbasis budaya, diperlukan dukungan dan peran berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, akademisi, dan dukungan ICT. Dalam pengembangan pariwisata, pertama peran dan fungsi pemerintah daerah dalam hal ini pemerintahan provinsi maupun kabupaten yaitu, melaksanakan pendampingan, pemberdayaan dan regulasi untuk mengatur dan mengendalikan dampak atas kehadiran wisatawan domestik maupun mancanegara, serta fungsi pemerintahan dalam mengembangkan akses wisata, infrastruktur dan mengembangkan sistem manajemen pariwisata terpadu yang memiliki kelengkapan sebagai sebuah sistem dengan dukungan ICT.

Pembangunan dan pengembangan pariwisata harus didasarkan pada kearifan lokal yang mencerminkan keunikan warisan budaya dan lingkungan, pelestarian, perlindungan dan peningkatan kualitas sumber daya sebagai dasar pengembangan pariwisata berkelanjutan.  Ketersediaan sumber daya alam dan sosial budaya lokal yang memiliki keunikan tersendiri sebagai tujuan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Terdapat tiga hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan, yaitu (1) keberlanjutan ekologi; (2) keberlanjutan sosial budaya, dan (3) keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal, tidak hanya untuk generasi sekarang tetapi juga generasi pada masa depan.

Kedua adalah peran community atau tourism society yaitu masyarakat selaku objek dan pelaku pariwisata yang terlibat langsung dalam keseharian bertransaksi melaksanakan fungsi pelayanan, membangun komunikasi. Keberhasilan pengembangan pariwisata khususnya ecotourism tergantung pada tingkat penerimaan dan partisipasi masyarakat lokal.

Pengembangan pariwisata berbasis partisipasi masyarakat dimulai dengan pelibatan masyarakat setempat dalam pemilihan, perancangan, perencanaan, dan pelaksanaan program atau aktivitas pariwisata yang akan mewarnai hidup masyarakat, sehingga dengan demikian dapatlah dijamin bahwa persepsi setempat, pola sikap, pola pikir, serta nilai-nilai dan pengetahuannya ikut dipertimbangkan secara penuh. Selanjutnya, setiap stakeholder harus mendapat manfaat dari aktivitas pariwisata yang dilakukan.

Ketiga adalah peran akademisi, melalui berbagai penelitian dan pengabdian masyarakat berkaitan pengembangan pariwisata, analisis, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) dapat memajukan industri pariwisata. Peran akademisi amat penting terutama dalam mengembangkan SDM pariwisata yang secara eksplisit, peran pendidikan tinggi pariwisata saat ini dibutuhkan untuk menjadi mitra pemerintah untuk menindaklanjuti ASEAN Mutual Recognition Agreement (MRA) sebagai kesepakatan bersama tentang diterimanya standar kualifikasi bagi tenaga profesionalisme pariwisata di antara negara ASEAN.

Keempat adalah dukungan Information, Communication and Technology (ICT) memiliki peran penting  dalam membangun sistem manajemen pariwisata terpadu. ICT menjadi penentu utama daya saing organisasi dan berbagai perkembangan teknologi mendorong perubahan dalam manajemen pariwisata. Penerapan ICT yang sukses membutuhkan manajemen yang inovatif untuk secara konstan meninjau perkembangan dan mengadopsi solusi teknologi yang sesuai untuk memaksimalkan daya saing organisasi.

Industri pariwisata merupakan industri yang sarat dengan informasi dan para pelakunya sangat bergantung untuk berkomunikasi dengan konsumennya (turis) melalui berbagai kanal informasi untuk memasarkan produk dan membangun hubungan dengan konsumen. Informasi mempunyai peran yang sangat penting dalam melakukan perencanaan wisata karena dapat memengaruhi pengambilan keputusan destinasi tujuan wisata dan perencanaan pembelian seperti akomodasi;  transportasi; aktivitas; atraksi; makanan; dan lainnya.

Penulis, kandidat Doktor Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana dan Staf Dosen STIMIK Denpasar

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.