NEGARA, BALIPOST.com – Sebagai media untuk menyalurkan potensi dan daya kreatibitas seni dan menghidupkan sekaa-sekaa Jegog yang ada di Jembrana, digelar festival Jegog 2019 yang mengusung tema “The New Spirit Of Jegog.” Jegog merupakan salah satu kesenian yang hanya ada di Jembrana.

Kesenian Jegog yang menggunakan alat musik didominasi bambu ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dihadiri Bupati Jembrana I Putu Artha, Wakil Bupati Jembrana I Made Kembang Hartawan, Forkopimda dan Pimpinan OPD di lingkup pemerintah Jembrana.

Selain itu puluhan siswa asal Papua yang bersekolah di Jembrana juga turut diundang untuk menyaksikan pagelaran Festival Jegog.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana Nengah Alit mengatakan, festival yang digelar selama dua hari mulai Jumat (30/8) hingga Sabtu (31/8), di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, sebagai upaya pelestarian seni budaya khas Jembrana. “Kegiatan festival ini juga membentuk karakter generasi muda Jembrana yang berbudaya. Disamping itu, sebagai media untuk menyalurkan potensi dan daya kreatifitas seni dan menghidupkan sekaa-sekaa jegog yang ada di seluruh Jembrana. jegog juga sebagai sebuah atraksi wisata unggulan selain makepung, sehingga kedepannya kesenian jegog dapat ditonton oleh wisatawan,” jelasnya.

Selain itu, pada Festival Jegog ke-2 tahun 2019 ini, rangkaian kegiatan pada hari pertama Jumat malam menampilkan tiga jegog kolaborasi yang berada di bawah naungan Sanggar Seni Sana Seni. Selanjutnya Sabtu (31/8), menampilkan jegog mebarung di bawah naungan paguyuban Jegog Jembrana dan sanggar seni Ghora Yowana Budaya dengan mengusung kurang lebih 60 sekaa jegog se-Jembrana.

Baca juga:  Makepung Ikon Jembrana, Diharapkan Gubernur Cup Bisa Kembali Digelar

Sementara Bupati Jembrana I Putu Artha dalam sambutannya menyampaikan Festival Jegog 2019 yang merupakan pelaksanaan kedua kalinya ini didukung Kementrian Pariwisata. Setelah berbagai penelitian dilakukan tentang Jegog.

Akhirnya jegog menjadi warisan budaya tak benda oleh Kementerian pendidikan dan Kebudayaan. Dari penghargaan tersebut, membuktikan bahwa begitu besar potensi budaya Jembrana sehingga sepatutnya menjadi prioritas untuk dilestarikan oleh seluruh masyarakat Jembrana.

Artha berharap tidak ada klaim budaya oleh daerah lain bahkan negara lain seperti yang telah terjadi pada reog dan lagu daerah. “Sehingga jika kita mengenal kebudayaan kita sendiri tidak ada lagi pengakuan atas kebudayaan kita oleh pihak lain,” terangnya.

Mengenai Jegog, lanjutnya, tidak hanya bicara mengenai gamelan atau alat musik jegog semata. Tetapi lebih dari itu, bupati berharap event yang digelar menjadi potret untuk mengenal Jembrana yang kaya dengan seni dan budaya.

Publik perlu diajak mengenal dan melestarikan keragaman budaya Jembrana serta kearifan lokal masyarakat untuk bersama membangun Jembrana, sesuai visi pemerintah kabupaten Jembrana membangun dari desa dan kelurahan. Bupati mengapresiasi dan memberikan penghargaan atas kreativitas sanggar senin dan masyarakat khususnya komunitas jegog Jembrana yang mampu bersinergi dengan pemerintah kabupaten sehingga terselenggaranya festival jegog ini. “Saya berharap festival Jegog bisa menjadi trigger atau pemicu seluruh masyarakat untuk berkreativitas, beriinovasi dalam, bidang seni budaya berbasis komunitas dan masyarakat,” tandasnya. (Adv/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.