SEMARAPURA, BALIPOST.com – Di tengah kegundahan masyarakat Bali terhadap ancaman keharmonisan alam, rupanya masyarakat Desa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Semarapura Kaja, Klungkung masih berupaya menjaga harmonisasi alam dengan pelaksanaaan tradisi. Tradisi yang dimaksud berupa prosesi caru Mejaga-jaga.

Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun bertepatan dengan tilem sasih karo. Prosesi macaru merupakan salah satu bentuk identitas etnik Bali.

Namun, caru Menjaga-jaga punya keunikan tersendiri. Ritual yang dilaksanakan secara turun temurun ini, selain langka, juga menggunakan sarana berupa seekor sapi, yang harus memenuhi beberapa kriteria.

Bendesa Pakraman Besang Kawan Tohjiwa, Wayan Sulendra, usai pelaksanaan tradisi, Jumat (30/8), mengatakan caru Mejaga-jaga ini mempergunakan sarana berupa seekor sapi cula atau sapi jantan yang sudah dikebiri. Selain itu, sapi juga tidak boleh ada manggar di punggung, tidak boleh ada suku bang (kuku kaki berwarna merah), lidah sapi tidak boleh berwarna poleng serta tidak boleh ada panjut (ekor sapi berwarna putih).

Jika pantangan itu diterobos dipastikan prosesi caru Mejaga-jaga akan ada kendala. Sehingga, pencarian sapi cula tidak sebatas di wilayah Klungkung bahkan pernah sampai ke Kabupaten Jembrana.

Mencari sapi cula yang memenuhi semua persyaratan untuk sarana caru Mejaga-jaga bisa dikatakan teramat sulit. Namun warga Besang Kawan Tohjiwa tidak pernah gagal mendapatkannya.

Kendati harus mengeluarkan uang lebih banyak, namun warga Besang Kawan Tohjiwa ikhlas untuk kepentingan ritual suci. Prosesi caru Mejaga-jaga ini diawali dengan mengarak sapi cula nyatur desa atau empat arah mata angin.

Ratusan warga silih berganti mengarak sapi cula tersebut, diiringi tetabuhan baleganjur. Diawali iring-iringan kober yang dibawa oleh anak-anak.

Uniknya, kober itu bukan terbuat dari kain seperti umbul-umbul pada umumnya, melainkan kober itu terbuat dari dahan pohon enau dihiasi bunga beludru, tidak boleh diganti dengan jenis bunga yang lain. Bunga beludru yang memiliki warna merah dan putih melambangkan purusa perdana.

Ritual ini diawali dari jaba Pura Puseh ke arah utara, kemudian ke arah selatan ke jaba Pura Dalem, diteruskan ke arah  timur lalu ke arah barat menuju Pura Prajapati dan terakhir di perempatan desa. Di setiap lokasi juga dihaturkan sarana berupa banten pejati.

Di setiap lokasi sapi cula itu disempal dengan parang. Parang yang digunakan untuk menyempal tubuh sapi cula itu pun bukan sembarang parang, melainkan yang dikeramatkan oleh Warga Besang Kawan Tohjiwa.

Senjata sakral itu sendiri selama ini disimpan di gedong penyimpenan. Selain harus menggunakan parang keramat, orang yang menyempal sapi cula itu juga tidak boleh sembarangan.

Seorang jero mangku ditunjuk khusus untuk melakukan itu. Pemangku itu bernama Mangku Kubayan atau disering sebut Mangku Pula Pati. Mangku Kubayan ini harus dari warih turun temurun.

Setiap punggung sapi disempal, warga yang bertugas memegang tali sapi yang terbuat dari tali bambu harus bersiap-siap menarik kencang tali tersebut, untuk menghindari sapi itu agar tidak terlepas. Begitu disempal darah pun tercecer di sepanjang jalan.

Ceceran darah sapi cula diyakini sarana untuk membersihkan atau menghamornisasi alam. Percikan darah itu juga diyakini warga bisa menyembuhkan segala macam jenis penyakit kulit.

Karena itulah di setiap ceceran darah, ada saja warga yang menengadahkan tangan, lalu percikan darah itu langsung diusapkan ke kening maupun wajah. Setelah diupacarai, sapi cula itu lalu dipotong menggunakan bambu rucing. Daging sapi cula lantas diolah untuk keperluan sarana caru, sedangkan sebagian dibagikan kepada warga. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.