Seniman mementaskan Genjek. (BP/dok)

Budaya Bali memang unik. Tidak ada duanya di dunia. Itulah sebabnya banyak dikagumi dan diteliti masyarakat internasional.

Pariwisata yang dikembangkan di Bali pun adalah pariwisata budaya. Pariwisata budaya yang dijiwai oleh Agama Hindu yang dianut sebagian besar penduduknya. Agama Hindu di Bali juga unik. Berbeda dengan Agama Hindu lainnya di dunia. Pelaksanaan ajaran Agama Hindu di Bali, tentu saja berdasarkan adat istiadat, konvensi yang telah ratusan tahun diajarkan leluhur serta budaya setempat.

Hindu di Bali berbeda dengan ajaran Hindu di belahan dunia mana pun. Itu cuma dalam pelaksanaan tetapi substansinya sama. Karena Hindu menyadari perbedaan. Perbedaan yang justru membuat keindahan. Keindahan yang mempersatukan. Persatuan yang menguatkan. Tidak hanya dalam konteks kehidupan beragama tetapi dalam sendi kehidupan apa pun.

Ketika toleransi sudah mulai dianggap sebagai sesuatu yang mahal, di Bali ini hal itu masih “murah”. Sangat jamak ditemui bahwa perbedaan itu menumbuhkan kesamaan. Persamaan dalam cara memandang hidup kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Budaya orang Bali menumbuhkan semangat solidaritas. Semangat kebersamaan serta kegotongroyongan. Ketika banyak pihak mengkhawatirkan hal ini akan tergerus oleh kemajuan zaman, mungkin itu benar.

Oleh sebab itulah, semangat adat yang dijiwai Agama Hindu itu terus ditumbuhkembangkan. Sebab, tidak ada yang abadi. Semua berproses. Tabiat manusia mengalami perubahan. Oleh karena itu, fondasi agamanya dikuatkan. Dasar kecintaan terhadap budayanya mesti ditanamkan.

Baca juga:  Mengimbangi Kinerja Gubernur

Solidaritas mesti dibangun di atas semangat kebudayaan serta keagamaan yang kuat. Sebab hal itu mesti muncul dari dalam, muncul sebagai kekuatan yang tidak hanya di permukaan. Dia mesti kuat luar dalam. Lahir dan batin. Solidaritas tanpa soliditas itu semu. Itu sebuah kelemahan yang dijustifikasi.

Kecintaan yang kuat dan hebat terhadap budaya dan agama jangan diikuti oleh ego yang besar. Karena itu akan membawa sikap chauvisnistik menganggap diri lebih hebat, lebih segalamanya dibandingkan orang lain. Ini berbahaya.

Sikap orang Bali yang terbuka dengan perubahan mesti juga diimbangi oleh peningkatan kekuatan akan pengetahuan. Pengetahuan yang terus berkembang yang melahirkan budaya baru. Budaya baru yang memperkuat fondasi. Sehingga kita benar-benar lolos kualifikasi dalam berkompetisi.

Yang jelas di tengah mordenisasai peradaban, perjuangan untuk mengawal budaya dan adat istiadat hendaknya tetap terbangun. Kita tak boleh abai dengan hal ini dengan berlindung di bawah dinamika zaman.

Kita hendaknya tetap solid dan tergerak untuk terus melakukan hal-hal positif dalam penguatan budaya dan tradisi. Ketulusan dalam mengawal adat dan budaya hendaknya menjadi satu kekuatan bagi krama Bali dalam menjaga peradaban di tanah Bali.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.