Wisatawan mengunjungi Forbidden City di Beijing. (BP/ist)

BEIJING, BALIPOST.com – Forbidden City di Beijing memang sudah sangat terkenal di kalangan wisatawan. Tak heran, meski cuaca panas menyengat pada Minggu (25/8), ribuan wisatawan memadati obyek wisata yang di Tiongkok disebut Gugong ini.

Kota terlarang merupakan tempat keluarga raja tinggal. Luas istana ini mencapai 720.000 meter persegi.

Sekitar pukul 10.00 Wita, para pengunjung sudah memadati jalan menuju areal objek wisata ini. Mereka ingin melihat dari dekat warisan peninggalan kerajaan di Beijing tersebut.

Mereka antre, kemudian memasuki kawasan melalui gerbang istana. Jumlah pengunjung saat itu lumayan banyak karena bertepatan dengan hari libur, Minggu. Ada yang datang secara perorangan, ada yang bergrup. Bahkan saking banyaknya, ada tercecer dari grupnya, sehingga mereka harus menunggu yang tercecer di pintu keluar istana usai berkunjung.

“Per hari sekitar 80 ribu wisatawan mengunjungi tempat bersejarah ini. Di antara mereka, ada tamu mancanegara, selebihnya wisatawan domestik. Kunjungan bertambah saat hari libur,” ujar Zhai Yuom Fei kepada Bali Post.

Memasuki tempat ini para wisatawan dikenakan biaya, kalau dirupiahkan mencapai Rp 120 ribu. Tetapi kalangan mahasiswa dan pelajar mendapat diskon 50 persen, dan anak-anak digratiskan.

Memasuki Forbidden City ini, pengunjung bisa memasuki lima lorong yang di atasnya adalah bangunan tinggi besar seperti gapura. Dulu ketika kerajaan ini masih ada, lorong paling tengah, hanya digunakan sebagai akses masuk sang raja.

Baca juga:  Berkunjung ke Capital Museum di Beijing, Tampilkan Peradaban dari Zaman Batu

Empat lainnya adalah tempat masuk kerabat raja, para patih, dan sebagainya. Kini, pengunjung menggunakan kelima lorong itu memasuki areal kerajaan. Namun, sebelum memasuki lorong, pengunjung diperiksa ketat oleh petugas menggunakan metal detektor.

Menurut pemandu wisata, Zhai Yuom Fei, hampir semua bangunan yang ada dalam kondisi baik, sampai sekarang. Termasuk perabotan yang ada di dalamnya.

Istana kerajaan ini dikelilingi kolam yang cukup luas. Di bagian belakang tumbuh sejumlah pohon pinus yang usianya mencapai ratusan tahun. Pohon-pohon itu dijaga keberadaannya.

Ada satu bangunan utama yang tinggi dan luas, dulunya digunakan sebagai tempat penobatan raja. Tai He Dian namanya.

Ada ratusan bangunan di sana, termasuk bangunan untuk para selir raja. Semua bangunan tampak megah, berornamen indah. Bangunan-bangunan itu menjadi pusat perhatian pengunjung. Tak boleh dimasuki, pengunjung hanya boleh melihat isi dalam bangunan dari luar.

Pemerintah setempat melalui dinas terkait menjaga dan melestarikan warisan kerajaan ini dengan baik. Kalangan anak-anak dan pelajar didorong mengunjunginya untuk mengenalkan secara dini warisan budaya nenek moyang, sekaligus edukasi pelestarian nilai-nilai budaya. (Subrata/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.