Siswa dan guru Ajeg Bali saat tampil sebagai prolog dalam seni teater, Kamis (15/8). (BP/istimewa)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Memeriahkan momen Hari Kemerdekaan RI ke-74, sejumlah SMP Kecamatan Klungkung, tampil bersama dalam seni drama modern atau teater, Kamis (15/8). Mereka tampil kompak dalam sebuah penampilan yang mengambil judul “Masatua” (Manut Sastra, Tutur lan Agama), “Padamu Negeri Kami Berjanji”.

Penampilan teater ini semakin terasa spesial, berkat tampilnya nominator guru dan siswa Ajeg Bali 2019, yang sebelumnya digelar Kelompok Media Bali Post, sebagai narator, saat teater dipentaskan di Panggung Kehormatan. Keduanya adalah wakil dari SMPN 2 Semarapura, yakni Pande Nyoman Budiarta sebagai Guru Seni Budaya dan Dewa Ayu Dyana Santi Sahadewi sebagai siswa Kelas IX SMPN 2 Semarapura.

Keduanya mampu tampil kompak dalam prolognya, sehingga makna dan tujuan teater dapat tersampaikan kepada penonton dengan baik. Dalam sinopsis teater tersebut, keduanya menggambarkan Indonesia sebagai sebuah Negeri Pancasila yang terjajah globalisasi.

Generasi negeri yang menyebut dirinya sebagai generasi milenial, terbuai desah napas revolusi industri. Kata belajar hanya untuk meraih ambisi. Prestasi hanyalah demi gengsi. Merekapun hanyut dan overdosis dalam candu teknologi.

Bahkan, etika hanya jadi seonggok sampah. Budaya asing pun kian menggerus lokalitas. Generasi ini melupa jati diri terbuai manis racun globalisasi.

Kedua narator ini pula menggambarkan saat ini ada sudut yang tak tersentuh candu itu. Keluguan yang masih mampu jayakan identitas dan lokalitas bangsa. Sebuah karakter yang harus tetap dijaga dan dikuatkan melalui kemampuan mereka dalam berkomunikasi, berlaku kreatif, berkolaborasi dan berpikir kritis.

Penguasaan terhadap kecakapan abad 21 yang pasti mengantarkan mereka menjadi generasi yang cerdas berkarakter dan cerdas berliterasi yang siap wujudkan Indonesia Emas 2045. “Inilah janji suci yang terpatri, padamu negeriku,” katanya.

Baca juga:  Pentas Seni Tutup Pesraman SAB dan GAB

Teater ini tampil dalam enam babak. Pertama, teater menggambarkan, generasi milenial yang sibuk dengan berbagai kegiatan individu. Mereka digambarkan dalam 4 kelompok. Ada kelompok asik membaca buku dan ada yang menulis (literasi).

Ada yang sibuk bermain HP, gadged, laptop dan perangkat lainnya. Ada yang beraktivitas budaya luar/ tari modern. Ada pula sekelompok anak-anak yang visioner tentang sains (membuat robotic, peneliti dan lain-lain).

Babak kedua, diceritakan sekelompok anak kecil yang bermain layang-layang. mereka mencoba berkomunikasi dengan beberapa kelompok itu. Tetapi tidak dihiraukan karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing.

Cerita teater ini semakin menarik pada babak ketiga, ketika akhirnya anak-anak ini menaikkan layang-layangnya. Satu per satu anak-anak milenial tadi bengong, terheran-heran dan bertanya–tanya kenapa plastik bisa terbang, bisa bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri.

Kelompok literasi menulis artikel, karya ilmiah tentang layang-layang. Kelompok digital membuat status di FB, dividiokan, dan diunggah di Youtube. Kelompok budaya menciptakan berbagai makna tarian yang bertemakan budaya nusantara. Kelompok Sains membuat penelitian penemuan baru, robot yang bisa terbang, layaknya layang-layang.

Akhirnya, kesimpulan teater ini terlihat pada babak kelima, bahwa semua kelompok ini akhirnya sadar. Bahwa semua potensi yang mereka miliki harus disatukan dan dipadukan dalam sebuah janji untuk berbakti dan mengabdikan jiwa dan raga bagi negeri Indonesia.

Kemudian, teater ditutup pada babak terakhir, ketika semua pemain, pendamping maupun penonton, bersama-sama menyanyikan lagu “Padamu Negeri”. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.