Anak Agung Bagus Sudarma menerima penghargaan dari Gubernur Bali, Wayan Koster. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Seniman serba bisa, Anak Agung Bagus Sudarma (58 tahun) menjadi salah satu dari total 9 orang penerima Penghargaan Seni Dharma Kusuma Tahun 2019. Penghargaan dalam bentuk piagam, medali emas dan uang tunai Rp 11 juta diserahkan langsung oleh Gubernur Bali Wayan Koster dalam Peringatan Hari Jadi Ke-61 Provinsi Bali, di Lapangan Niti Mandala Renon, Denpasar, Rabu (14/8).

“Saya mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian yang sangat luar biasa dari Pemprov Bali dan juga Kabupaten Badung. Bagai menemukan satu kebaikan yang luar biasa,” ujar pria yang akrab disapa Gung Bagus ini usai menerima penghargaan.

Gung Bagus selama ini dikenal sebagai undagi handal serta penari profesional. Seniman kelahiran 21 November 1960 ini sudah menunjukkan bakat pada seni pahat sejak masih remaja. Keahliannya kian terasah usai menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa jurusan Seni Patung pada tahun 1981.

Karya-karyanya semakin matang seiring dengan pertambahan usianya. Salah satu yang terkenal adalah kemampuannya dalam membuat Bade. Sudah ratusan Bade maupun Lembu digarapnya dalam berbagai bentuk dan ukuran. Termasuk karya prestisiusnya berupa Bade Tumpang Sia yang digunakan pada Pelebon di Puri Mengwi tahun 2000.

Karya Bade, Lembu, Singa dan Gajah Mina buatannya juga dipamerkan di Museum Kotapraja Delft Belanda. Selain itu, Gung Bagus juga sering dipercaya untuk memperbaiki ataupun membuat tapakan sesuhunan berupa Rangda, Barong, Arca maupun Pratima.

Baca juga:  Bali Punya Peran Penting untuk Garuda Indonesia

Karyanya berupa Pratima dapat ditemui di Pura Simpangan Kekeran yang ia buat pada tahun 2008 lalu dan membuat Arca di Pura Khayangan Tiga Desa Ungasan Jimbaran pada tahun 2006. “Saya seni rupa-nya pengabdi untuk profan. Seperti membuat arca-arca, karena seni rupa kita itu dipakai persembahan,” tuturnya.

Gung Bagus mengaku sangat berbahagia kalau karya-karyanya bisa dihargai dan apalagi disembah. Pria yang bertugas di SMP 2 Mengwi ini menginginkan anak-anak didiknya bisa mengikuti jejaknya.

Dengan demikian, mereka bisa ikut berperan aktif melestarikan budaya Bali. Sementara di bidang seni tari, seniman asal Puri Muncan Kapal, Mengwi, Kabupaten Badung ini lebih banyak mengabdikan kemampuannya menari untuk ngayah wewali di berbagai pura. Selain itu, ia juga kerap mengikuti berbagai festival tari baik di kabupaten maupun di tingkat provinsi.

Ayah dua orang anak ini bahkan pernah menjadi partisipan dalam pertukaran budaya di kota Nishiarita, Provinsi Saga, Jepang. Ia juga membentuk Sanggar Yudistira di Banjar Muncan, Kapal, dengan harapan bisa mengimplementasikan kemampuan yang ia miliki demi terus tumbuhnya seniman-seniman baru di era yang akan datang.

Bakatnya dalam dunia seni pun diwarisi putra-putrinya, Anak Agung Gede Agung Rahma Putra dan Anak Agung Mas Sudarningsih. Keduanya kini lebih dikenal melalui komunitas “Pancer Langit” di Kabupaten Badung. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.