MANGUPURA, BALIPOST.com – Pada Anggara Kasih Medangsia, Selasa (13/8),  akan digelar puncak piodalan di Pura Uluwatu, Badung. Saat itu umat dilarang nunas tirta dengan tempat berbahan plastik. Demikian hasil paruman desa adat Pecatu dan pangempon Pura Uluwatu, Minggu (4/8).

Pangelingsir Puri Agung Jrokuta selaku Pengempon Pura Uluwatu, A.A. Ngurah Jaka Pratidnya mengatakan pihaknya berupaya mengurangi penggunaan plastik dalam piodalan kali ini. Selain itu, busana ke Pura juga mendapat perhatian.

Disepakati, penggunaan busana agar sesuai dengan tata krama yang baik dan benar. Selain itu juga diputuskan untuk menertibkan persembahyangan umat, akan dibuatkan penyawangan Pura Jurit dan Pura Luhur Uluwatu di madya mandala.

Menurut Turah Joko, demikian ia akrab disapa, sebaiknya umat membawa tempat tirta dari rumah masing-masing, bukan dari bahan plastik seperti stoples kecil. Para pemangku juga tidak melayani dan menyiapkan tirta yang dibungkus dengan plastik.

Baca juga:  8 Juli, Puncak Piodalan di Pura Mandara Giri Semeru Agung

Langkah ini dilakukan karena pengempon dan pengemong Pura Luhur Uluwatu berkomitmen mengurangi penggunaan bahan plastik dalam kehidupan beragama. “Hal ini kami sudah lakukan sejak pioalan enam bulan lalu,” tegasnya.

Kedua, para pedagang sekitar Pura juga dilarang menggunakan tas plastik saat melayani konsumen. Dengan demikian Pura Uluwatu yang pertama kali menerapkan kebijakan ini guna ikut mengedukasi umat menjaga lingkungan dan kebersihan.

Terkait dengan kebersihan, dalam paruman juga disepakati umat langsung membawa bekas sarana persembahyangan ke bak sampah yang sudah disiapkan. Hal ini dilakukan untuk mendidik umat secara mandiri menjaga kebersihan pura.

Sedangkan mengantisipasi ganasnya serangan monyet penghuni Alas Kekeran, Pecatu, pengempon sudah menyiapkan petugas. Selain itu juga upakara secara niskala sehingga umat bisa bersembahyang dengan nyaman. (Made Sueca/balipost)

1 KOMENTAR

  1. Saya setuju dengan pengurangan sampah plastik..dan untuk monyetnya klo bisa jaga seperti di Ubud..mereka berkecukupan secara makanan..sehingga tidak agresif..masak penghasilan jutaan setiap hari tidak bisa kasih makanan monyet..dan hanya beberapa petugas saja yv jaga..harus belajar dari obyek wisata Ubud monkey forest..jangan hanya ambil uang ticket saja.trimakasih

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.