Kadisbud Bali I Wayan “Kun” Adnyana. (BP/rin)

DENPASAR, BALIPOST.com – Susastra Bali sejatinya mengandung banyak nilai kearifan lokal. Sosialisasi tentang nilai-nilai tersebut mesti terus dilakukan pada setiap generasi. Salah satunya lewat ajang Utsawa Dharma Gita yang tahun ini kembali digelar untuk ke-29 kalinya.

Utsawa Dharma Gita Tahun 2019 dibuka Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya, Denpasar, Selasa (30/7) dan berlangsung hingga Kamis (1/8). “Sastra agama Hindu merupakan warisan leluhur yang mengandung kebijaksanaan dan ajaran kebenaran,” ujar Wakil Gubernur yang akrab disapa Cok Ace ini.

Lebih lanjut dikatakannya, visi-misi dan program pembangunan Bali yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana Menuju Bali Era Baru salah satunya adalah menjaga dan melestarikan budaya. Termasuk di dalamnya sastra seperti kakawin, parwa, kidung, dan geguritan yang merupakan akar budaya Bali. Sastra tersebut kemudian melahirkan berbagai kesenian, di antaranya seni pewayangan, ukiran, dan pertunjukan.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan “Kun” Adnyana mengatakan, pelaksanaan Utsawa Dharma Gita tidak sekadar mencari wakil Provinsi Bali untuk ajang yang sama di tingkat nasional tahun depan. Kegiatan ini juga untuk menggali serta mensosialisasikan konsep dan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalam susastra Bali. Apalagi, Utsawa Dharma Gita turut melibatkan peserta anak-anak usia dini.

Baca juga:  Memperkokoh Kekuatan Bali

“Anak-anak usia 7-8 tahun sudah begitu piawai dalam matembang, membacakan sloka, jadi otomatis keluhuran budinya sudah tertanam dan digali sejak dini. Itu sebuah investasi luar biasa bagaimana kekuatan susastra menjadi pondasi bangunan generasi Bali unggul kedepan,” jelasnya.

Ke depan, lanjut Kun, pelaksanaan Utsawa Dharma Gita akan lebih dikuatkan lagi. Salah satunya dengan menentukan tema khusus yang diusung setiap tahun agar lebih fokus. Misalnya tentang kepahlawanan yang digali dalam sloka atau geguritan. “Tiap generasi harus diberi sosialisasi lewat wahana Utsawa Dharma Gita ini, selain kompetisi sebenarnya penyebaran nilai-nilai etik, kepahlawanan, dan kearifan lokal yang lain, itu yang penting,” imbuh mantan Ketua LP2MPP di ISI Denpasar ini.

Menurut Kun, total 502 peserta dari 9 kabupaten/kota mengikuti 9 jenis lomba yang terbagi dalam 37 kategori, yakni pembacaan sloka, palawakya, kakawin, kidung, geguritan, dharma wacana berbahasa Bali, dharma wacana berbahasa Inggris, dharma widya, dan menghafal sloka. Sebelum berlomba di tingkat provinsi, telah dilakukan pembinaan di tingkat kabupaten/kota untuk lebih mengoptimalkan konten. (Rindra/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.