kintamani
Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pada perayaan Galungan, Rabu (24/7), Bali diguncang 3 kali gempa. Gempa pertama terjadi pada pukul 09.29.13 Wita dengan kekuatan 4,9 pada kedalaman 71 km. Gempa kedua terjadi pukul 18.53.13 Wita dengan berkekuatan 4,1 pada kedalaman 66 km.

Kemudian pada pukul 21.17.23 Wita, gempa kembali terjadi di Samudera Hindia selatan Bali. Kali ini pusat gempa berada di zona megathrust selatan Bali.

Menurut Kepala bidang informasi gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Dr. Daryono, hasil analisis update yang dilakukan BMKG menunjukkan bahwa gempa ini memiliki kekuatan 5,2. Episenter terletak pada koordinat 10,57 LS dan 115,00 BT, tepatnya di Samudra Hindia pada jarak 198 km arah baratdaya Nusa Dua dengan kedalaman 10 km.

Berdasarkan lokasi episenter dan kedalamannya tampak bahwa gempa ini merupakan jenis gempa tektonik dangkal di zona megatrust relatif dekat dengan front subduction. Dengan memperhatikan mekanisme sumber yang berupa pergerakan naik (thrusting) maka hiposenter gempa ini terletak pada bidang kontak antar Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

Gempa semacam ini populer disebut sebagai “interplate earthquake”. Pusat gempa ini meskipun lokasi sangat jauh dari Bali dan Lombok, tetapi beberapa warga di Lombok merasakan guncangan gempa ini dalam skala intensitas II MMI.

Baca juga:  Dua Fasilitas Ini Mulai Diterapkan di Bandara Ngurah Rai

Ditinjau dari kedalaman hiposenternya maka baik gempa pertama dan kedua adalah gempa dengan kedalaman menengah di zona Benioff. Ditinjau dari karakterikstik kedalaman dan mekanisme sumbernya tampak bahwa gempa pertama dan kedua lebih memiliki kaitan dengan aktivitas gempa kuat yang terjadi pada pada 16 Juli 2019 lalu dengan kekuatan 6,0 pada kedalaman 75.6 km. Sedangan gempa yang ketiga adalah gempa baru di zona megathrust.

“Dengan terjadinya peristiwa 3 gempa bumi di selatan Bali dalam sehari ini marilah kita bersama meningkatkan kewaspadaan, tetapi kita tidak perlu resah dan khawatir. Tingkah laku gempa masih sulit dikenali polanya, selain itu aktivitas gempa bumi belum dapat diprediksi kapan, dimana, dan berapa kekuatannya,” jelasnya.

Terkait apakah rentetan gempa di selatan Bali ini merupakan tipe gempa pembuka? Ia mengaku sangat sulit untuk menentukan sebuah gempa disebut sebagai gempa pembuka atau bukan. (Winatha/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.