NEGARA, BALIPOST.com – Pascakejadian puluhan warga di Desa Mendoyo Dauh Tukad mengalami sakit diduga keracunan, Dinas Kesehatan (Diskes) Jembrana melakukan investigasi. Tim kesehatan melakukan sejumlah tindakan mulai dari menanyakan kronologis hingga mengambil sampel yang diperlukan.

Termasuk melakukan investigasi ke rumah duka peserta Porcam yang meninggal dari Banjar Ngoneng, Desa Mendoyo Dauh Tukad, Ni Putu Suardaniasih (34). Tetapi Dinkes masih belum dapat memastikan sumber pasti penyebab puluhan warga mengalami keluhan yang sama yakni gangguan pada perut.

Sementara itu pihak keluarga Ni Putu Suardaniasih mengaku telah mengikhlaskan kepergian korban yang sebelum meninggal, sempat mengalami kejang-kejang itu. Keluarga juga enggan melakukan otopsi guna memastikan kematian.

Salah satu kerabat, Komang Pasek (24), ditemui di rumah duka di Banjar Ngoneng mengakui sebelumnya almarhum sudah sempat mengeluhkan sakit sejak beberapa hari sebelumnya. Termasuk saat final futsal wanita yang diikutinya di Lapangan Pergung dalam Porcam, sejatinya korban sudah merasakan tak enak badan.

Kendati begitu, korban masih terlihat biasa bahkan sempat datang saat acara pernikahan kerabatnya di Banjar lain. Namun pada Kamis (18/7), almarhum yang masih lajang ini berada di rumah dengan kondisi demam.

Baca juga:  Ratusan Orang Keracunan Nasi Kotak Saat Perpisahan TK

Hingga pada Kamis malam di rumah, tiba-tiba korban sempat muntah dan kejang-kejang hingga akhirnya meninggal. Suardaniasih yang merupakan salah satu atlet futsal wanita dalam Porcam mewakili Desa Mendoyo Dauh Tukad ini memiliki riwayat yang sama dengan pasien lain.

Tetapi belum dapat dipastikan apakah korban mengalami keracunan.

Kepala Diskes Jembrana, I Putu Suasta dikonfirmasi terpisah mengatakan tim hingga sore masih melakukan investigasi terkait sebab banyak warga di Mendoyo Dauh Tukad mengalami gejala sakit perut. “Dari investigasi awal memang ada riwayat yang sama pada semua pasien. Yang sakit ini hampir semuanya datang di Porcam dan mengkonsumsi makanan. Tetapi kita masih telusuri lebih lanjut, karena jangka waktu reaksi yang muncul agak lama dari waktu mengkonsumsi. Jadi kita belum bisa memastikan apakah dari makanan atau faktor yang lain,” ujar Suasta.

Menurut Suasta, para pasien ini mengalami gejala gangguan perut. Sedangkan, untuk warga yang meninggal menurutnya juga belum bisa dipastikan karena keracunan.

Bisa jadi ada penyakit lain atau kondisi yang menyebabkan meninggal. Karena itu menurutnya investigasi diperlukan untuk memastikan penyebab keluhan para pasien ini. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.