Siswa SMK sedang membaca koran saat orientasi siswa baru. (BP/dok)

Oleh I Wayan Kerti

Karena sekolah adalah sebuah lembaga akademik, masyarakat dan pemerintah sendiri berusaha sekuat tenaga untuk memberikan jaminan pendidikan di sekolah bagi anak-anak bangsa usia sekolah. Akan tetapi, dalam kenyataannya, budaya akademik masih belum banyak kita temui di lingkungan sekolah.

Masih ditemukan kesulitan dalam meningkatkan salah satu budaya akademik, yaitu membaca dan menulis. Walaupun warga sekolah selalu membaca dan menulis, yaitu membaca buku pelajaran dan menulis tugas-tugas belajar, itu hanyalah kegiatan rutinitas warga sekolah yang memang menjadi tugas pokoknya. Budaya membaca dan menulis yang dimaksudkan adalah membaca buku nonfiksi dan menyusun tulisan nontugas.

Sulitnya meningkatkan budaya membaca dan menulis merupakan dampak yang ditimbulkan oleh rendahnya keinginan, perencanaan, dan keteladanan dari pihak yang menjadi sentral pendidikan. Dalam hal ini adalah guru dan pimpinan lembaga. Walaupun ada guru dan pimpinan lembaga pendidikan yang gemar membaca, menulis, atau kedua-duanya, jumlah mereka masih minim untuk menjadi sosok teladan bagi peserta didik agar aktif membaca dan menulis.

Mereka yang sedikit memiliki kegemaran dan kemampuan membaca dan menulis justru seakan menjadi guru subkultur sebagai penyemai jiwa di sekolah-sekolah. Selebihnya adalah guru dan pimpinan lembaga pendidikan yang masih menjadi arus utama, merasa berada di zona nyaman.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, salah satunya dengan penyelenggaraan program sertifikasi guru. Tujuan sertifikasi guru diklaim untuk mengadakan standardisasi performa guru.

Akan tetapi, ternyata program ini tidak banyak memberi pengaruh dalam menjadikan guru agar lebih meningkat kemauannya membaca buku. Sepertinya, hal utama yang dicari guru dalam mengejar sertifikasi adalah tambahan penghasilan.

Bagi yang sudah menikmati tunjangan profesi ini mungkin berangapan sudah berada di zona yang aman dan nyaman. Hal ini tentu  sangat disayangkan. Di tengah gencarnya gerakan literasi sekolah (GLS) yang digalakkan oleh pemerintah, justru sosok sentral di lembaga pendidikan tidak menampilkan keteladanan bagi peserta didiknya.

Suasana ruang kelas tentu akan menyenangkan jika guru mata pelajaran di luar bahasa Indonesia mampu menghadirkan cerita-cerita novel yang sedang tren sebagai media pengemas materi yang disampaikan. Misalnya, guru Agama atau PPKn mampu menghadirkan sosok Dilan dalam novel Dilan-nya Pidi Baiq untuk dikaji nilai-nilai karakter atau keteladanan yang dapat dipetik.

Guru IPA (Biologi) mendiskusikan wacana Ecological Intelligence-nya Daniel Goleman dengan cara yang menarik di ruang kelasnya, dijamin akan meningkatkan rasa ingin tahu peserta didik lebih lanjut terhadap mata pelajaran tersebut. Intinya, guru-guru dan pimpinan lembaga pendidikanlah yang semestinya senantiasa memperbarui pengetahuan, dengan demikian juga akan memperbarui proses pembelajaran peserta didiknya sebagai hasil dari membaca buku. Guru hendaklah menjadi pembelajar sejati di tengah arus globalisasi yang semakin deras dewasa ini memasuki sendi-sendi kehidupan dan pendidikan kita.

Baca juga:  Sekolah Agar Buat Tim Pengadaan Seragam

Bisa dibayangkan, apa jadinya jika guru hanya mengajarkan kepada peserta didiknya pengetahuan yang sama yang didapatkannya puluhan tahun yang lalu. Pelajaran di ruang kelas hanya akan menjadi pelajaran sejarah. Bagaimana peserta didik bisa menggapai dunia, jika informasi yang disampaikan gurunya sudah ketinggalan dan tidak representatif sesuai tuntutan zaman?

Kita tidak bisa dan tidak boleh hanya mengharapkan kesadaran membaca dan menulis peserta didik tumbuh dengan sendirinya. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi kaum pendidik dan pimpinan lembaga pendidikan selain memberikan keteladanan, kegiatan yang senantiasa diperbarui, dan sarana pendukung yang memadai.

Kultur membaca-menulis perlu kita ciptakan, bukan dengan menunggu seperti datangnya musim hujan. Kultur ini perlu diarahkan agar benar-benar terealisasi dan muncul dari usaha yang terencana dan sistematis, bukan spontan dan sporadis. Apabila kita mengharapkan guru-guru menjadi teladan, logis pula rasanya jika kita mengharapkan kepala satuan pendidikan, guru bahasa, kepala perpustakaan turut sebagai pemicunya.

Kepala satuan pendidikan semestinya merumuskan strategi demi terciptanya budaya-budaya akademik (membaca dan menulis) di lingkungan lembaga yang dipimpinnya. Di samping itu, perlu dipastikan juga bahwa benih budaya baca-tulis yang telah berhasil ditanamkan, mesti tetap dilestarikan.

Ada berbagai strategi yang dapat dilakukan untuk mendukung berjalannya hal tersebut, baik melalui kegiatan yang sifatnya tampak seperti lomba-lomba, gerakan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai yang dilajutkan dengan membuat resume. Gerakan yang sifatnya tersembunyi, misalnya sanksi membaca dan menulis buku nonpelajaran bagi peserta didik yang tidak tertib atau melanggar peraturan akademik sekolah.

Guru pun perlu bertindak lebih konkret dalam mengarahkan kemampuan membaca dan menulis peserta didik. Jangan hanya membiarkan peserta didik sekadar membaca, kemudian tidak memikirkan atau mendiskusikan hal-hal yang telah mereka baca tersebut.

Untuk mendukung hal ini, kepala perpustakaan/pengelola perpustakaan sekolah pun sekiranya perlu menyediakan buku-buku yang bermutu, dan sesekali perlu dilaksanakan kegiatan ilmiah semacam bedah buku, lomba menulis esai/artikel, lomba meresume buku nonpelajaran, dan lain sebagainya di satuan pendidikannya.

Peserta didik juga perlu menyadari bahwa peningkatan kompetensi diri tidak bisa dilakukan hanya dengan belajar dari buku pelajaran. Peserta didik perlu memperkaya diri dengan membaca buku-buku pengayaan sehingga pemahaman mereka tentang materi pembelajaran menjadi lebih utuh, holistik, dan terintegrasi.

Jika ini terjadi, dikotomi ilmu pengetahuan atau disiplin ilmu tidak lagi relevan. Semuanya sama menjadi satu. Seiring dengan membaiknya kondisi budaya membaca di satuan pendidikan, budaya menulis pun akan membaik pula. Hal ini disebabkan  proses menulis baru bisa membaik jika dimulai dengan membaca secara baik pula. Jadi, menanamkan tradisi membaca adalah langkah awal menciptakan penulis-penulis masa depan di negeri ini.

Penulis, guru bahasa Indonesia, Ketua Gerakan Literasi Sekolah di SMP Negeri 1 Abang

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.