Sejumlah seniman memperagakan pembuatan patung tradisi. (BP/wan)

DENPASAR, BALIPOST.com – Patung tradisi merupakan roh gumi Bali yang membuat Pulau Dewata semakin hidup. Sebab, selain karena keindahan alamnya, Bali tersohor ke mancanegara karena budaya patungnya.

Namun, dari tahun ke tahun seniman patung tradisi semakin berkurang. Hal ini disebabkan hak cipta karyanya dibeli dan diproduksi mahal oleh pembeli hak cipta. Di samping juga disebabkan pesatnya perkembangan teknologi yang membuat generasi muda enggan berkesenian patung tradisi.

Hal ini diakui I Ketut Mustika, dosen ISI Denpasar, saat menjadi pembicara pada Workshop Patung Tradisi di PKB ke-41, Rabu (10/7) sore. Workshop ini merupakan kali pertama digelar pada perhelatan pesta kesenian tahunan ini.

Workshop yang berlangsung di Kalangan Angsoka, Taman Budaya ini memang tak banyak peserta yang ikut. Namun, peserta dari kalangan anak muda hingga orang dewasa, bahkan dari luar Bali sangat antusias mengikuti workshop hingga akhir.

Bahkan, pertanyaan-pertanyaan peserta mengalir lancar. Seorang peserta sempat menanyakan bagaimana cara membuat taksu pada patung tradisi. Pertanyaan itu mendapat tanggapan dari Mustika. “Taksu dapat dikejar bila pengerjaan karyanya sesuai pakem,” ujar Mustika.

Pada kesempatan tersebut, Mustika juga mengingatkan bahwa semakin berkurangnya seniman patung tradisi di Bali akan merugikan Bali ke depan. Sebab, Bali tersohor ke seluruh dunia tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena budaya patungnya.” Sebenarnya patung tradisi itu merupakan roh gumi Bali yang membuat Bali semakin hidup,” ujarnya.

Baca juga:  Jadwal PKB, Senin 8 Juli 2019

Mustika mengajak generasi muda Bali untuk ambil bagian dalam pelestarian seni patung tradisi. Sehingga seniman mematung di Bali tidak memudar dan tetap menjadi roh gumi Bali ke depannya.

Sementara itu, praktisi seni patung tradisi Tjok Udiana Nindhia Pemayun mengingatkan saat membuat patung tradisi, seorang seniman harus berhati-hati. Sebab, dalam proses pembuatannya perlu diperhatikan antara energi di badan patung dengan energi alat yang digunakan.

Apabila antara energi badan patung dengan alat yang digunakan beda, maka menimbulkan hal yang tidak diinginkan, seperti cidera. Selain itu, pihaknya juga mengingatkan masyarakat agar tidak asal memotong pohon yang hidup.

Ini bukan hanya berlaku untuk membuat patung tradisi, melainkan juga untuk semua hal. Sebab, di dalam pohon terdapat bayu atau energi. ‘’Hati-hati memotong pohon yang hidup, karena di dalamnya ada bayu atau energi,’’ pesan Tjok Nindia. (Winatha/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.