Ilustrasi. (BP/Dokumen Swara Tunaiku)

Sekarang zaman milenial, era digital. Hampir semua perangkat teknologi sudah mengarah ke sana. Era digital 4.0 atau bahkan di beberapa negara sudah mengarah ke 5.0 tergantung kemajuan serta daya inovasi sumber daya manusianya.

Saat ini, kita memang, katanya, sudah menuju era 4.0, semua era digitalisasi. Sejatinya, apakah memang sudah begitu? Di beberapa daerah, atau tempat di negeri ini barangkali sudah, tetapi itu sebagian kecil. Jangankan 4.0, 3.0 saja belum.

Terlepas dari kemajuan teknologi itu, yang mau tidak mau mesti diterima kemudian diadaptasi, maka yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana mengembangkan mindset kita. Visi sumber daya manusianya. Sudah benar-benar siap dan cocok apakah tidak. Siap atau tidak siap, katanya harus siap.

Maka dari itu, siap itu mutlak perlu. Apakah itu cocok? Barangkali ini yang masih dipertimbangkan. Belum semua cocok. Ada hal-hal konkret yang perlu dipertanyakan. Sebab, mengarah ke era digital memang perlu biaya yang tidak murah. Bagaimana dampaknya kemudian? Akan ada dampak sosial ekonominya.

Contoh saja soal pabrik. Bagaimana kemudian tenaga manusia dieliminasi oleh lengan-lengan robot yang akurasi serta presisinya sudah sedemikian canggih. Banyak kemudian terjadi pengangguran. Apakah ini cocok? Mungkin tidak, tetapi ini fakta.

Banyak hal yang tidak mungkin menjadi mungkin oleh media komunikasi yang sedemikian canggih. Contoh kecil saja. Siapa mengira kalau mencari ojek sekarang begitu gampang? Dengan gadget di tangan serta aplikasi, hal itu sudah menjadi hal biasa.

Baca juga:  UKM Harus Kompetitif dan Adaptif

Mencari makanan, berbelanja, konsultasi ekonomi, hukum dan sebagainya. Banyak sekarang retail raksasa yang bertumbangan gara-gara bisnis online. Ini memang sudah kepastian zaman yang tidak terelakkan. Semua mesti beradaptasi, berubah, dan mengikuti alurnya. Kalau tidak akan tergilas dan binasa.

Semua jenis usaha memang akan berubah platform-nya. Upaya ke digitalisasi mesti dilakukan. Bahkan, ini wajib dilakukan. Usaha yang berakar di daerah mesti mampu berbicara di tingkat global. Ini bukan masalah besar sepanjang dia punya produk kompetitif dan main dalam alur digital. Media sosial menjadi salah satu contoh bagaimana dahsyat dampak atau efek dari sebuah peristiwa.

Yang sebenarnya lebih penting adalah bagaimana menumbuhkembangkan semangat untuk menemukan hal baru. Menjadi start-up kemudian menggulirkannya dengan bantuan teknologi. Semangat kreatif serta inovatif dalam membuat produk. Juga begitu dalam hal organisasi. Apakah itu komersial maupun nonkomersial.

Sentuhan teknologi digital itu menjadi sebuah keharusan. Di samping membuat tugas menjadi lebih mudah, efektif dan efisien, tetapi juga ini akan menjadi sebuah pertanda bahwa sejatinya kita tidak bisa menolak kehadiran sebuah teknologi. Akan tetapi, mesti diingat juga, hal itu jangan justru membuat kita semakin jauh dari jati diri dan semangat sebagai orang Bali yang kental dengan nuansa agama dan budaya.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.