Sekaa gong kebyar lansia Werdha Merdangga Sandhi tampil pada Rabu (10/7). (BP/wan)

DENPASAR, BALIPOST.com – Usia bukanlah menjadi halangan bagi seseorang untuk tampil dalam kreativitas seni. Hal inilah yang ditunjukkan Sekaa Gong Kebyar Lansia Werdha Merdangga Sandhi, Yayasan Pembangunan Sanur sebagai duta Kota Denpasar saat tampil di PKB ke-41, Rabu (10/7).

Tampil di Kalangan Ratna Kanda, sekaa gong yang didominasi lansia ini menggunakan pakaian tabuh lengkap. Penampilan mereka mampu memukau para penonton.

Apalagi, mereka tampil bersama Sekaa Gong Kebyar Taman Anak-anak Kumara Swara Pascima Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Kecamatan Denpasar Selatan. Para lansia ini menampilkan dua suguhan menarik yakni Tabuh Pat Gari dan Sendratari Ramayana.

Tabuh Pat Gari merupakan transformasi dari Tabuh Gari yang ada dalam barungan Gambelan Gambuh atau Semarapagulingan yang ditransfer ke dalam sebuah komposisi Tabuh Pat Lelambatan. Tabuh ini merupakan tabuh kreasi yang diciptakan oleh I Wayan Berata pada tahun 1984.

Uniknya, tabuh yang dibina oleh I Ketut Budiana ini tidak seperti Tabuh Pat Lelambatan pada umumnya, karena pada satu sisinya tidak terdapat bagian pengisep. Sementara Sendratari Ramayana sebenarnya telah dipentaskan sejak 1961 yang merupakan cerita cinta klasik yang diangkat dari tulisan berbahasa Sansekerta karya Walmiki.

Cerita Ramayana ini sesuai dengan yang terpahat dalam relief kuno dinding Candi Prambanan, serta mirip cerita kuno masyarakat Hindu di India dalam latar Candi Prambanan sebagai candi Hindu terbesar di Indonesia. Alur cerita Ramayana ini disajikan dengan apik dalam bahasa Jawa dengan iringan musik gamelan serta sinden.

Baca juga:  Jadwal PKB, Senin 8 Juli 2019

Koordinator Sekaa Gong Kebyar Lansia Werdha Merdangga Sandhi, I Made Kara, mengatakan Sendratari Ramayana dulunya pernah menjadi ikon di Sanur. Momentum tersebut tepat saat bangkitnya seni di Sanur pada tahun 1975 dan akhirnya sekitar tahun 1978 sering dipentaskan. Kisah Sendratari Ramayana ini menceritakan bagaimana Rama mengikuti sayembara untuk dapat memenangkan hati Sinta.

Di samping juga menceritakan perjalanan Rama, Sinta dan Laksamana di dalam sebuah hutan. Menariknya, Sekaa Gong Kebyar Lansia ini tidak hanya berupaya membangkitkan kembali kisah Ramayana, tetapi juga kembali mencetak dalang, sendon dan gerong.

Meskipun sekaa gong kebyar ini beranggotakan para lansia yang usianya rata-rata di atas 65 tahun, diakuinya, saat latihan tidak menemukan kesulitan. Sebab, rata-rata dari mereka adalah seniman yang memiliki daya ingat yang kuat.

Hanya, yang menarikan Dewi Sita agak kesulitan, karena basic-nya bukan penari. Namun, secara perlahan mereka bisa menarikannya dan mampu membangkitkan kembali gong kebyar di Desa Sanur. (Winatha/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.