Kerajinan kemulan dipamerkan di PKB 2019. (BP/san)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bagi umat Hindu yang hendak membangun atau merenovasi Sanggahnya bisa datang ke stand UKM Pesta Kesenian Bali (PKB). Di sana ada stand UD Merta Jati Kemulan, dari Jehem Bangli.

Di stand tersebut dipamerkan kerajinan kemulan, taksu maupun rong tiga yang umum menjadi bagian dari Sanggah di Bali. Kerajinan ini terbuat dari kayu Cepaka maupun kayu nangka. Ada yang polos bahkan sampai berukir dengan harga yang bersaing.

Pemilik UD Merta Jati Kemulan Jehem, Ketut Sukajati mengatakan usaha ini adalah usaha yang dirintis orangtuanya dan sudah berjalan selama duapuluh tahun. Selama puluhan tahun usaha ini berjalan diakui Sukajati mengalami pasang surut namun tidak sampai mati.

Menjelang hari baik biasanya pemesanan akan meningkat dan sepi jika tidak ada hari baik. ”Seperti sekarang biasanya akan meningkat karena setelah Galungan banyak hari baik dan banyak masyarakat yang membangun atau merenovasi sanggah,” ujarnya.

Lanjut Sukajati, khusus kerajinan ini jarang ada yang ready dan umumnya dibuat jika ada pesanan. Pesanan biasanya ada yang polos atau berukir.

Baca juga:  Musim Nikah, Perajin Aksesoris Pengantin Kebanjiran Order

Bisa dipesan yang langsung dengan atap atau tanpa atap. Harganya tergantung dari kerumitan desain serta bahan bakunya. ”Untuk desain biasanya dari saya langsung. Dikerjakan jika ada pesanan,” ujarnya.

Sukajati mengaku sudah sering mengikuti PKB untuk promosi produknya. Banyak pengunjung yang datang untuk melihat-lihat, namun umumnya tidak langsung membeli tetapi kemudian memesan saat dibutuhkan. ”Karena membuat Sanggah itu kan butuh rencana. Jadi ajang PKB ini kami jadikan promosi untuk mengenalkan ke masyarakat. Biasanya kalau ada hari baik, mereka yang berkunjung ke sini akan menghubungi dan melakukan pesanan,” tutur Sukajati.

Mengenai bahan baku diakuinya ia sulit mendapatkan di daerah asalnya Jehem, Bangli. Tetapi bahan kayu Cempaka dan Nangka masih bisa dipenuhi di Bali seperti daerah Kintamani, Karangasem dan Buleleng.

Untuk yang berbahan dasar kayu Cempaka, kata Sukajati memang lebih mahal dibandingkan yang berbahan dasar kayu Nangka. Untuk harga ada dikisaran Rp 10 juta hingga Rp 15 juta untuk yang polos. Tetapi jika ingin berukir harganya bisa mencapai Rp 40 juta. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.