SMA Kertha Wisata Tabanan. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Penerapan zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) rupanya tidak serta merta dirasakan manfaatnya untuk sekolah swasta, khususnya jenjang SMA. Di Kabupaten Tabanan, setidaknya ada tiga SMA yang tidak dapat siswa untuk tahun ajaran 2019/2020.

Satu diantaranya bahkan terancam ditutup.Tiga SMA Swasta yang tidak mendapat siswa tahun ini seperti SMA PGRI 6 Bajera, SMA TP 45 Tabanan, sementara SMA Kertha Wisata juga terancam tutup.

Kepala SMA Kertha Wisata I Gede Wayan Arka saat dihubungi membenarkan bahwa dalam PPDB tahun ini, sekolahnya tidak menerima siswa lagi. Bahkan untuk kelas II dan kelas III juga sudah tidak ada lagi tahun ini. “Kelas III sudah tamat tahun ini 12 orang, jadi kami putuskan tidak menerima siswa lagi,” ujarnya, Senin (8/7).

Keberadaan SMA Kertha Wisata, lanjut kata Arka sudah sejak tahun 1987. Dimana sekolah ini juga sempat mengalami masa kejayaan ditahun 2000. Bahkan saat itu SMA Kertha Wisata sampai mendapatkan 6 kelas. “Sudah 33 tahun sekolah kami, dan menamatkan siswa sampai 3.000 lebih,” tegasnya.

Hanya saja memang belakangan ini jumlah siswa mulai berkurang. Terkait kondisi sekolahnya yang minim siswa ini juga sudah disampaikan kepada pihak yayasan saat rapat.

Namun, terkait apakah sekolah ini akan lanjut difungsikan atau tidak memang belum ada kepastian. “Semua tergantung Yayasan, saya belum tahu apa keputusannya. Apakah nanti akan ditutup atau tidak, saya belum tahu,” terangnya.

Kondisi serupa juga terjadi di SMA TP 45 Tabanan. Sekolah yang berlokasi tepat di seberang SMAN 1 Tabanan ini juga minim siswa. Seperti dikatakan Kepala SMA TP 45 Tabanan, I Made Purna, jumlah yang mendaftar tidak sesuai standar atau kurang dari 20 orang, sehingga tahun ini pihaknya tidak akan menerima siswa. “Ini terkait pembiayaan, kalau kurang dari standar tidak kami terima,” jelas Arka.

Baca juga:  2.485 Siswa SMA di Jembrana Ikuti UNBK

Meski demikian SMA TP 45 Tabanan masih memiliki siswa kelas III sebanyak 8 orang.
Diakui Arka selama proses pendaftaran baru satu orang tua saja yang menanyakan pendaftaran. Dan itupun hanya sekedar belum ada kepastian. “Ya hanya satu orang saja yang bertanya, kami pasrah saja,” tegas Wirka.

Sementara itu Kepala SMA PGRI 6 Bajera I Putu Adi Adnyana Negara menjelaskan sesuai dengan rapat yayasan dan komite tahun pembelajaran 2019/2020 tidak menerima siswa. Karena tahun 2019 tidak ada sisws yang mendaftar. “Maka dari itu sesuai keputusan rapat, kami tidak menerima siswa tahun ini,” jelasnya.

Diterangkan selama proses pendaftaran sama sekali belum ada siswa yang mendaftar. Kalau pun nanti ada tidak dengan jumlah minimal atau lebih dari 20 orang, siswa tersebut tidak akan diterima. “Kalau kurang dari itu percuma, karena tidak akan masuk dalam dapodik,” ucapnya.

Dimana pada tahun ajaran 2018/2019, SMA PGRI 6 Bajera kebagian siswa hanya 6 orang. Dan telah disarankan pindah ke sekolah negeri. Sehingga tahun 2018 tersebut untuk siswa kelas II bolong. “Sekarang kami hanya punya siswa kelas II saja 21 orang,” ucapnya.

Padahal menurut Negara tahun 1998-2009 siswa yang mendaftar cukup banyak. Hingga SMA PGRI 6 Tabanan mendapatkan siswa dua kelas. Hanya saja mulai tahun 2010 siswa yang berminat ke SMA 6 PGRI Bajera sedikit. (Puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.