Seniman Lansia mementaskan dramatari dalam PKB 2019. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sejak tahun 2000 silam, Sekeha Arja Lansia Sukanya, Banjar Celuk, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung dibentuk. Sekaa ini berkesempatan tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI lewat pementasan dramatari arja dengan lakon ‘Sungu Mawungu’.

Penampilan para lansia inipun menyedot perhatian cukup banyak penonton di Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Jumat (5/7) siang. “Semua berawal dari ngebrik. Terus kita buat sekar alit dulu. Kemudian megegitan, geguritan, lanjut meningkat sekar agung. Sudah itu kita bentuk arja duduk atau orang sering sebut  arja taman penasar,” ungkap Koordinator Sekeha Arja Lansia Sukanya, Jro Mangku Ketut Gina.

Menurut Gina, para lansia yang tergabung dalam sekeha mengutamakan prinsip ngayah. Keikhlasan menjadi kunci dalam berkarya.

Itu sebabnya, arja taman penasar sangat laris dan digemari penonton. Mereka pun diundang pentas ke berbagai tempat, bahkan sampai ke Gunung Salak Bogor, Jakarta, Jawa Timur, dan tidak terhitung lagi pentas di Lombok.

“Setelah itu, kemudian meningkat. Ide-ide muncul. Kita pun rapat dan salah satu keputusannya adalah membuat arja lansia karena sudah ada bibit-bibitnya,” terangnya.

Untuk tampil di PKB XLI, lanjut Gina, ada 12 orang lansia yang dilibatkan. Paling muda berusia 55 tahun, dan yang paling tua berusia lebih dari 70 tahun.

Baca juga:  Puppet Production Pamerkan Topeng dan Wayang

Selain itu, juga didukung oleh 12 orang penabuh. Lakon ‘Sungu Mawungu’ yang dipentaskan, bercerita tentang raja wanita (Limbur) yang sakti dari kerajaan Sunya Merta.

Ia memiliki seorang putri, Diah Anggrek Wulan dan seorang putra yakni Mantri Buduh bernama Raden Jaya Prakosa. Keduanya belum ada pendamping.

Mantri Buduh sejak lama menginginkan Galuh Satyawati sebagai istri. Padahal Galuh Satyawati dari kerajaan Tantra Pura telah diambil sebagai calon istri oleh Mantri Manis dari kerajaan Santi Pala.

Sementara Diah Anggrek Wulan menginginkan suami Putra Santi Pala dari kerajaan Santi Pala, yang tak lain calon suami Galuh Satyawati. Melalui kesaktiannya, Limbur mencoba mewujudkan keinginan putra dan putrinya itu. “Awalnya terlihat akan berhasil, tetapi kemudian gagal karena kesaktian benda pusaka berupa Sungu,” imbuh Gina.

Penanggung jawab pementasan arja lansia, I Ketut Merjiwa, mengatakan, persiapan pentas dilakukan sejak tiga bulan lalu. Para seniman lansia berlatih tiga kali dalam seminggu. “Kami meminta support dan perhatian dari pemerintah biar kami dapat untuk selanjutnya melestarikan kebudayaan Bali,” ujarnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.