DENPASAR, BALIPOST.com – Pengumuman hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019-2020 untuk jejang SMP, SM dna SMK di Denpasar serentak dilakukan Jumat (5/7). Untuk PPDB SMA dan SMK dilakukan penuh secara online.

Itu pun molor dari pukul 08.00 menjadi 15.00 wita. Sedangkan pengumuman untuk PPDB SMP di Kota Denpasar dilakukan secara online dan offline.

Pasalnya PPDB SMP di Denpasar yang menambah kuota untuk sekolah negeri dilakukan lewat seleksi Nilai Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) yang seleksinya diserahkan kepada sekolah.
Dari hasil pengamatan Bali Post, Jumat (5/7), NUSBN tertinggi dan terendah yang diterima di SMPN 3 Denpasar 288.07-263.30, SMPN 11 Denpasar 276.40-106.30, di SMPN 8 Denpasar 286.40-261.70, sedangkan di SMPN 10 Denpasar 288.8-259.00.

Dari data ini disimpulkan bahwa siswa USBN tertinggi berkumpul di SMPN 3 dan SMPN 10 Denpasar.

Kadisdipora Kota Denpasar, Drs. I Wayan Gunawan mempersilahkan masyarakat melihat hasil pengumuman secara online dan offline di sekolah masing-masing. Dia mensyukuri PPDB di Kota Denpasar berjalan sesuai juknis sekalipun ada tambahan kuota untuk sekolah negeri akibat situasi dan kondisi.

Pihaknya segera melakukan evaluasi mendalam soal PPDB untuk dijadikan input kepada Kemendikbud. Calon siswa baru yang diterima, kata dia, bisa melakukan pendaftaran ulang di sekolah masing-masing mulai Senin (8/7) dengan membawa persyaratan yang diperlukan.

Sementara itu akibat penambahan kuota, SMP negeri di Denpasar beragam menyikapi penambahan kuota tersebut. Di SMPN 1 Denpasar seperti diungkapkan Kepala SMPN 1 Denpasar, IGA Putu Awaitwati, S.Pd., dengan menerima 11 kelas siswa baru, pihaknya tak bisa mempertahankan semua siswa belajar pagi hari.

Mulai 2019 ini PBM di sekolah unggulan ini terpaksa kembali dilakukan double shif alias pagi dan siang. Alasannya, lab dan perpustakaan sudah sebagian dipakai ruangan kelas.

Baca juga:  Truk Tabrak Rumah Warga dan Dua Tewas, Sopir Ditetapkan Jadi Tersangka

Sementara itu Kepala SMPN 3 Denpasar, I Wayan Murdana, S.Pd., M.Psi., mengaku sejak awal mengantisipasi masalah ini. Sekolahnya tetap menjalankan full day school, karena penambahan kuota siswa baru lewat jalur NUSBN dilakukan lewat penambahan jumlah siswa per kelas sesuai petunjuk Disdikpora yakni 40 siswa/kelas. “Kami tetap mempertahankan lab dan perpustakaan karena kami adalah sekolah model di Bali,” tegasnya.

Sementara itu SMPN 8 Denpasar belum mengambil sikap apakah akan double shift atau memanfaatkan ruang lain untuk disulap menjadi ruang kelas. Kepala SMPN 8 Denpasar, I Wayan Murah, S.Pd., saat dihubugi sedang berada di Jakarta mengikuti wokrhsop.

Ia baru akan memikirkan soal double shif atau tidak hingga pendaftaran kembali dan masa orientasi siswa baru berakhir dengan melakukan berbagai pertmbangan.
Namun sejumlah gurunya menolak dilakukan model double shif.

Alasannya jumlah guru yang tadinya 32 orang, tahun ini pensiun lagi lima sehingga berkurang menjadi 27 guru. Di sisi lain, dua gedung ruang kelasnya sudah jebol alias tak bisa dipakai lagi.

Padahal sekolah ini maksmimal bisa menerima 8 kelas, kini naik menjadi 11 kelas. “Kalau dari segi jumlah siswa kebanyakan, namun SDM guru kurang jika dipakai doube shif,” kata seorag guru di sekolah tersebut.

SMPN 10 Denpasar juga bersikap ragu menentukan apakah double shif atau full day school. Kepala SMPN 10 Depasar, I Wayan Sumiara, S.Pd., mengaku belum mengambil sikap karena perlu mendiskusikan dengan dewan guru dan ketersediaan sarana yang ada. (Sueca/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.