Orangtua siswa dan siswa berebut melihat pengumuman PPDB SMP di Buleleng. (BP/mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Tahun ajaran baru 2019/2020 jumlah lulusan SD negeri di Buleleng tercatat 11.508 siswa. Sebanyak 962 siswa telah mendaftar ke jenjang SMP negeri di Bali Utara.

Hasil pengumuman Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di semua sekolah negeri, Selasa (2/7), menunjukkan 646 anak tidak mendaftar ke SMP negeri. Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda Olahraga (Disdikpora) Buleleng Made Astika mengatakan, ratusan anak yang diketahui tidak mendaftar ke sekolah negeri itu, belum terdeteksi dengan detil.

Namun, ia mengungkapkan kemungkinan lulusan SD sebanyak itu tidak mendaftar dalam masa PPDB karena mencari sekolah ke luar Buleleng. Selain itu, kemungkinan memilih masuk di sekolah swasta. “Data anak ini belum bisa dibilang tidak mendapat sekolah. Kami belum mendapatkan data detil penyebabnya. Namun bisa saja memilih sekolah swasta atau mencari sekolah di luar daerah,” katanya.

Menurut mantan Kepala Bidang (Kabid) SD Disdikpora ini, untuk menelusuri 646 anak yang tidak mendaftar itu, ia masih berkoordinasi dengan pengelola satuan pendidikan terkait. Nantinya, data detil sekolah swasta atau madrasah yang telah menerima siswa akan dilacak, sehingga sampai jadwal pendaftaran kembali pada 5 Juli 2019 akan diketahui berapa anak yang tidak mendapatkan sekolah baik negeri, swasta, maupun madrasah. “Kita masih menunggu sampai akhir pendaftaran kembali. Saat itu baru akan kelihatan siswa yang tidak dapat sekolah, baik karena tidak mendaftar di sekolah negeri atau karena tidak diterima di sekolah pilihannya melalui tiga jalur dalam PPDB,” jelasnya.

Baca juga:  SMP Negeri di Denpasar Hanya Tampung 3.636 Lulusan SD, Sepuluh Ribuan akan Masuk Swasta

Astika mengatakan, 646 siswa yang tidak mendaftar di sekolah negeri dipastikan jumlahnya terkoreksi setelah jadwal pendaftaran kembali ditutup. Lulusan SD tersebut dipastikan dapat ditampung di sekolah negeri terdekat dengan tempat tinggal calon peserta didik. Sebab, setiap sekolah bisa saja ada calon peserta didik yang tidak mendaftar kembali.

Upaya lain disiapkan jajaran Disdikpora Buleleng mengatasi kemungkinan adanya lulusan yang tidak mendapat sekolah adalah lewat posko dropout (DO) di masing-masing koordinator pendidikan kecamatan. Posko DO ini tidak hanya sekedar mencatat anak yang putus sekolah atau terancam putus sekolah, tetapi mengarahkan agar anak bersangkutan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP atau madrasah.

Kalau persoalannya tidak cukup biaya atau transportasi, Disdikpora akan menyiapkan anggaran di daerah. Ia juga mengharapkan parstisipasi dari Corporate Social Responsibility (CSR) beberapa perusahaan atau pihak ketiga lain. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.