Seniman menarikan Tari Bali saat pementasan di PKB 2019, Selasa (2/7). (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Lampung Tengah turut berpartisipasi dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI. Yakni lewat pementasan tari dan musik tradisional daerah Lampung di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya, Senin (1/7).

Salah satu yang menarik adalah tari Bala, yang merupakan kependekan dari Bali dan Lampung. “Judulnya memang Bala, Bali-Lampung. Itu digarap pada saat Presiden Soeharto ke Lampung tahun 1995, geraknya memang khusus gerak Lampung-Bali, musiknya juga musik Lampung-Bali,” ungkap Ketua WHDI Lampung Tengah, Ni Wayan Desi Hermawati.

Desi menjelaskan, tari Bala yang ditarikan oleh wanita dengan karakter tari laki itu digarap saat Dharma Santi Nyepi Nasional di Kota Metro, Lampung. Bisa juga diartikan pasukan perang, karena karakter tari Bala merupakan karakter keprajuritan. Selain tari Bala, tari Gema Jurai Emas juga merupakan kolaborasi antara gerakan tari serta musik Bali dan Lampung.

“Tari ini adalah penyatuan 9 suku yang ada di Lampung,” imbuhnya. Menurut Desi, tari Gema Jurai Emas merupakan hasil garapan dari mahasiswa STSI (ISI, red) yang sedang melaksanakan pembinaan seni dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Lampung. Gema berarti suara, jurai adalah simbul marga atau suku yang ada di Lampung, dan emas merupakan logam mulia. Jadi, Gema Jurai Emas berarti suara yang dihasilkan dari pikiran yang mulia untuk menyatukan sembilan marga yang ada di Lampung.

Baca juga:  Sekaa Gong Manggeh Jayengrat, Duta Badung Tampil Memukau

“Sekarang di Lampung sudah mulai seniman-seniman yang dari Bali, banyak sekali di Lampung dan mereka rata-rata kolaborasi semua,” jelasnya.

Desi menambahkan, Bali-sentris kini sejatinya sudah mulai berkurang di Lampung. Termasuk di Lampung Tengah dengan jumlah umat Hindu terbanyak hingga dijuluki Bali kedua. Itu sebabnya, garapan-garapan baru lebih banyak berbentuk kolaborasi Lampung-Bali. Khusus untuk tampil di PKB XLI, ada 48 seniman dan kru yang dilibatkan. Meliputi penabuh tari Lampung, penabuh kolaborasi Bali-Lampung, penari, hingga kameramen.

Total ada 3 lagu dan 6 tarian yang dipentaskan termasuk tari Bala dan Gema Jurai Emas. Untuk lagu, ada lagu Ekhamku di Lampung, Puncak sai Indah, dan Cangget Agung. Sedangkan 4 tari lainnya adalah tari penyambutan khas Lampung “Sigeh Penguten”, tari Sakik Kedis yang mengisahkan tentang orang yang harus merasakan sakit gigi dan masyarakat Lampung percaya bahwa cengkeh merupakan obat yang paling ampuh untuk mengatasinya, tari Lijung yang terinspirasi dari adat kawin lari di daerah Lampung, serta tari Bedana yang merupakan pengembangan dari gerak tari Zapin/joget Melayu dan tergolong tari pergaulan muda-mudi di Lampung.

“Saya sangat bersyukur karena telah diberikan ruang oleh Pemda Bali untuk menampilkan kesenian daerah Lampung. Kedua, saya sangat merasa bangga karena leluhur saya di Bali dan saya lahirnya di Lampung, saya bisa menunjukkan bahwa kami di sana sangat diterima dengan baik,” pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.