Sanggar Mudra Kecamatan Petang menampilkan pementasan drama gong di Kalangan Ayodya, Ardha Chandra, Denpasar. (BP/ist)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pementasan seni drama gong sempat mengalami masa kejayaan pada tahun 80 hingga 90-an. Namun, setelah itu pakem-pakem pementasan drama gong mulai pudar. Untuk itu, Sanggar Mudra, Kecamatan Petang, duta Kabupaten Badung dalam parade drama gong di PKB ke-41 2019, memiliki misi mengembalikan pakem drama gong.

Tampil di Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Sabtu (29/6) malam, para pemain drama gong dari Sanggar Mudra mampu menyedot pengunjung untuk menyaksikannya. Penampilan mereka selama kurang lebih tiga jam dapat  mengobati kerinduan pencinta drama gong.

Lakon yang dipertontonkan berjudul “Sastra Semara Pingit” dengan latar belakang cerita Panji yang sarat dengan kisah asmara dan kerajaan sebagai ciri drama gong selama ini. Cerita Panji ini dikemas semenarik mungkin tanpa menghilangkan identitas dan pakem drama gong itu sendiri. Sebab, lewat cerita Panji ini, penonton diperkenalkan tentang sor singgih berbahasa Bali di kerajaan atau puri di Bali.

Penggarapan lakon ini hanya mengandalkan lima orang pemain yang pernah bermain drama gong, sisanya adalah para pemain yang baru pertama kali memerankan peran dalam drama gong. Sementara latihan dilakukan kurang lebih selama empat bulan.

Baca juga:  Sanggar Tedung Agung, Tampilkan Drama Tari Gambuh Anyar

Lakon “Sastra Semara Pingit” menceritakan kisah asmara antara putri raja Kerajaaan Daha dari istri pertamanya dengan Raja Putra/Raja Muda yang penuh liku karena keserakahan istri kedua raja Kerajaan Daha. Istri kedua raja Kerajaan Daha berasal dari Pejarakan yang terkenal dengan magic-nya. Pada satu adegan sang Putri dilarikan oleh raja gila setelah lebih dulu mencederai Raja Muda. Raja Muda khawatir dengan keselamatan sang putri. Tetapi Patih Anom menasehati Raja Muda untuk tidak perlu khawatir. Apalagi, sebelum meninggal, almarhum ibunda sang Putri telah memberi sang Putri ajian “Sastra Semara Pingit”. Siapa pun tidak dapat menggauli sang Putri apabila itu tidak atas kehendak sang Putri sendiri.

Pesan yang ingin disampaikan ke penonton adalah kebenaran akan selalu menang walau perjalanan panjang dan berliku. Betapa pun penderitaan yang terjadi pada akhirnya kalau benar, jujur dan sabar, maka kita akan mencapai apa yang diharapkan.

“Selain mengembalikan pakem drama gong, lewat pementasan ini kami juga ingin mengenalkan sor singgih berbahasa Bali di kalangan generasi muda,” tandas Koordinator Sanggar Mudra, I Gusti Lanang Subamya. (Winatha/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.