Ilustrasi. (BP/dok)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Desa Selat, Kecamatan Sukasada sampai saat ini mengalami permasalahan ketersedian air bersih. Di desa ini, tiga dusun diantaranya mengalami krisis air bersih.

Kalau musim hujan, warga masih bisa menampung air hujan untuk keperluan mencuci dan mandi. Namun situasi ini bertambah parah ketika kemarau, warga harus membeli air ke desa-desa tetangga untuk keperluan rumah tangga.

Perbekel Desa Selat hasil Pergantian Antar Waktu (PAW) Putu Mara usai dilantik oleh Wakil Bupati Buleleng dr. Nyoman Sutjidra, Sp.OG. Kamis (27/6), mengatakan, dari seluruh dusun yang ada yakni Gambuh, Bulu Lada, Selat, Sekar Sari, Gunung Sari dan Dusun Wita Jati, tiga diantaranya belum di-cover layanan air bersih. Tiga dusun itu yaitu, Bulu Lada, Selat, dan Dusun Gambuh.

Ketiga dusun ini kesulitan air bersih karena debit air yang dikelola saat ini belum mencukupi. Atas kondisi ini, ketika kemarau seperti sekarang, warga dari tiga dusun ini terpaksa mencari air ke dusun tetangga atau bahan membeli dari desa tetangga. “Persoalan air bersih ini masalah lama dan belum terpecahkan. Untuk itu, setelah kami dilantik untuk melanjutkan pemerintahan perbekel terdahulu fokus menggarap masalah ini agar setiap warga di Selat terlayani air bersih,” katanya.

Menurut Mara, kawasan hutan lindung di desanya banyak terdapat sumber mata air baku yang memungkinkan dikelola untuk kesejahteraan masyarakat. Hanya saja, sumber mata air yang ada itu terlanjur dikelola oleh kelompok masyarakat tertentu.

Bahkan, pengelolaannya sudah mengarah pada komersialisasi untuk mendapat keuntungan sendiri. Selain itu, ada sumber mata air yang secara kewilayahan berada di Desa Selat, namun dikelola oleh desa lain. “Ini masalahnya dan ke depan kami akan menjalankan kebijakan bagaimana sumber mata air yang ada itu dikelola sepenuhnya untuk kepentingan masyarakat Desa Selat. Tentu dalam penanganan ini kami meminta agar pemerintah kecamatan dan kabupaten memfasilitasi, sehingga solusi yang diambil itu menyelesaikan masalah yang terjadi selama ini,” jelasnya.

Baca juga:  Krisis Air Bersih

Selain optimalisasi pengelolaan sumber mata air yang ada saat ini, ia mengatakan tahun ini Desa Selat menerima bantuan dari pemerintah pusat di bidang sarana air bersih dengan nilai Rp 2,5 miliar. Dengan bantuan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar itu, Mara menyebut, pemerintah pusat akan mengalirkan sumber mata air di areal Hutan Lindung di Desa Wanagiri dengan pembangunan jaringan pipa dan bak resevoar (penampungan-red). “Tahun ini pembangunan sarana air bersih itu direalsiasikan dan ini berkat kebijakan dan perjuangan peberkel terdahulu, sehingga kami melanjutkan kebijakan dalam dua tahun ke depan akan mengawal bantuan ini, sehingga menambah cakupan pelayanan air bersih yang kami kelola untuk keperluan masyarakat,” jelasnya.

Sementara itu tokoh masyarakat yang juga Ketua Komisi II DPRD Buleleng, Putu Mangku Budiasa, mengatakan permasalahan air bersih ini sebenarnya terjadi sejak lama dan hampir semua dusun terdampak. Ini pemicunya karena keterbatasan sumber mata air baku yang memungkinkan untuk dikelola.

Selain itu, adanya sumber mata air yang juga sudah dikelola oleh desa tetangga, sehingga hal itu tidak bisa dialihkan karena akan memicu konflik atar desa. Untuk itu, politisi PDI Perjuangan Buleleng ini mendukung kebijakan pemerintahan desa saat ini untuk menggatasi masalah krisis air bersih. “Kami dukung dan dari dulu memang masalah air ini belum dipecahkan. Sekarang bantuan pusat dan BWS itu akan menambah cakupan layanan air bersih di desa kami lebih baik optimal dari saat ini,” katanya. (Mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.