Polisi mengumpulkan tulang-tulang yang ditemukan di pekarangan rumah warga Banjar Sangluh, Pesinggahan, Dawan, Klungkung. (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Warga Banjar Sangluh, Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, dikagetkan dengan temuan tulang-tulang manusia, Kamis (27/6). Beberapa tulang tampak sudah rapuh, kemungkinan karena telah lama terkubur di areal pekarangan milik I Wayan Rati (70). Penemuan kali ini langsung dilaporkan ke Polsek Dawan, setelah sebelumnya juga ditemukan tengkorak manusia di sekitar tempat itu.

Kasubag Humas Polres Klungkung AKP Gede Putu Ardana menyatakan, tulang belulang tersebut pertama kali ditemukan oleh I Komang Suastika (39) sekitar pukul 09.30 Wita. Ia menemukannya pada kedalaman kurang lebih dua meter, ketika proses pengerjaan pengerukan tanah, sebagai bagian perluasan areal pekarangan yang akan dipakai dapur.

Suastika kaget karena saat mengeruk tanah menggunakan cangkul, menemukan beberapa bagian tulang tersebut masih utuh. Tulang seperti dalam posisi berdiri. “Tulang-tulangnya langsung saya kumpulkan dan pindahkan ke tempat aman. Setelah itu baru saya laporkan ke Bhabinkamtibmas Desa Pesinggahan,” ujarnya.

Sekitar lima bulan lalu, ketika bekerja melakukan pengerukan tanah di sekitar tempat tersebut, Suastika juga menemukan kerangka tengkorak manusia. Namun, saat itu tidak disertai penemuan tulang-tulangnya dan tidak dilaporkan ke polisi. Pihak keluarga memilih membuang tengkorak tersebut ke sungai di wilayah Kabupaten Buleleng sesuai petunjuk paranormal.

Baca juga:  Pemeriksaan Kesehatan Seluruh Paslon di RSUP Sanglah

Menerima laporan warga, SPK Polsek Dawan dan Polres Klungkung bersama-sama Tim Ident Polres Klungkung menuju TKP penemuan. Tulang tersebut dibawa ke Polres Klungkung guna penanganan lebih lanjut.

Kasat Reskrim Polres Klungkung AKP Mirza Gunawan belum berani memastikan apakah itu benar tulang dan tengkorak manusia atau tidak. Hasil temuan akan dibawa ke Lab Forensik RSUP Sanglah. “Kami tunggu hasil pemeriksaan di sana. Sebab, merekalah yang lebih tahu, itu benar tulang manusia atau tidak,” jelasnya.

Sementara itu, Rati menyampaikan sekitar rumahnya dulu adalah areal tegalan. Isinya tanaman salak dan pandan. Disinggung mengenai penemuan tulang tersebut, dia mengaku kurang tahu. Sebab, sejak tinggal di sana sampai berumur 70 tahun, tidak pernah mengubur mayat di areal rumah.

Ia mengungkapkan, tak jauh dari rumahnya pernah menjadi saksi peristiwa G-30-S PKI. Banyak warga yang menjadi korban. Lokasinya sekitar 100 meter dari rumahnya. Menurutnya, tulang-belulangnya sudah dikeruk dan diaben. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.