Seniman duta Kota Denpasar menampilkan seni prembon pada Pesta Kesenian Bali (PKB) XL di Taman Budaya Bali, Rabu (4/7). (BP/dok)

Pesta Kesenian Bali (PKB) 2019 terkesan agak berbeda dari sebelumnya. Ini pas disebut PKB era baru. Hal itu terlihat dari dibebaskannya sewa stan pameran bagi kalangan swasta. Kedua, nuansa seni semakin semarak bersamaan dengan peringatan Bulan Bung Karno.

PKB merupakan ajang bergengsi dari, oleh, dan untuk masyarakat Bali. PKB ini berpusat pada beberapa aspek karakteristik masyarakat Bali dan agama atau tradisi. Disadari atau tidak sejak beberapa tahun dekade PKB digelar masih kering dengan aspek edukasi budaya. Masyarakat lebih cenderung mengajak anaknya di musim libur ke pusat perbelanjaan dan pusat makanan siap saji berbau asing ketimbang menggandeng tangannya menonton atraksi seni di PKB.

Pada PKB 2019, masyarakat pun kini kian antusias menonton aneka atraksi seni. Ini terlihat hampir setiap hari Jalan Hayam Wuruk, Jalan Nusa Indah macet total. Bahkan, kemacetan sudah mulai terasa hingga Jalan WR Supratman di Kesiman ketika ada pementasan sendratari, gong kebyar, dan pementasan unggulan lainnya. Ini menandakan bahwa PKB yang sengaja digelar pada saat libur panjang ini menjadi alternatif hiburan terbaik.

Selain menjadi hiburan terbaik, PKB juga menjadi hiburan rakyat yang edukatif. Di ajang ini, banyak seni tradisi yang sudah punah namun mampu direkonstruksi kembali sehingga bisa dilestarikan dan dikembangkan oleh generasi muda. Selain itu, kita bisa menyaksikan kehebatan kaum wanita Bali yang tak kalah piawainya menabuh dan menari. Seakan kalangan wanita Bali tak lagi hanya berkutat di sektor pertanian, mengurus anak, dan majejahitan. Mereka juga terlibat dalam seni tradisi.

Dari segi ekonomi, para perajin yang juga notabene pengusaha muda Bali mendapat kesempatan untuk tampil dan mempromosikan diri. Lihat saja di stan pameran, seratus persen dikuasai oleh pengusaha Bali dan sebagian oleh pengusaha muda. Demikian juga di stan kuliner, sebagian besar melibatkan anak muda. Hanya, perlu dikritisi harganya jauh lebih mahal dibandingkan menu kuliner sejenis di masyarakat. Hal ini justru mencoreng predikat PKB sebagai pestanya rakyat. Dengan demikian, harga dan jenis kulinernya juga harganya merakyat.

Baca juga:  "Kelana Carang Nagapuspa," Rekonstruksi Gambuh Anyar Kreasi Mengwi

Demikian juga di sektor bisnis lainnya. Sektor pedagang kaki lima di kawasan PKB justru didominasi oleh warga luar Bali. Mereka berani mengontrak dengan harga berapa saja, asalkan bisa berjualan. Makanya jangan heran kawasan PKL seperti pedagang sandang, aksesori, dll. dikuasai oleh penduduk pendatang. Bahkan, justru sektor ini paling ramai dikunjungi. Ini artinya selain menonton PKB, krama Bali cenderung berbelanja untuk keperluan konsumtif. Makanya jika kita menyebut PKB adalah paket lengkap yakni menghibur, edukasi, dan ekonomis, boleh-boleh saja, namun harus dilanjutkan untuk siapa PKB itu?

Jika itu pertanyaannya, kita perlu merevitalisasi semangat almarhum I.B. Mantra yang mencetuskan PKB sejak 41 tahun lalu. Mantan Gubernur Bali ini jika menyaksikan dari alam sana PKB ini pasti tersenyum dan juga geleng-geleng kepala.

Beliau tersenyum karena pelestarian seni dan budaya Bali dan seniman menghasilkan puncak-puncak seni dan budaya ditampilkan di ajang PKB secara berkelanjutan. Namun, beliau geleng-geleng kepala mengapa ajang bisnis PKB tak banyak dinikmati krama Bali. Nah, masih ada waktu panjang untuk berbenah di PKB berikutnya. Semoga spirit PKB yang sebenarnya bisa kita wujudkan.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.