Penampilan Sanggar Leklok pada PKB XLI di Taman Budaya, Denpasar. (BP/rin)

Oleh A.A. Raka Pradnyamita

Pesta Kesenian Bali (PKB) adalah parade atau festival kesenian yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya oleh Pemerintah Provinsi Bali sebagai wadah bagi para seniman dalam menuangkan kreativitasnya. PKB 2019 yang mengusung tema ‘’Bayu Pramana’’ berusaha menyuguhkan seni teater, seni tari, pawai, serta perlombaan yang menjadikan napas kehidupan sebagai tema di dalamnya. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, PKB diharapkan mampu melestarikan budaya Bali, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta memberikan pengaruh yang signifikan untuk perekonomian di Bali.

Sasaran PKB 2019 terhadap kelestarian sosial budaya di Bali tampak lebih spesial. Sebab, kegiatan-kegiatan di dalamnya merupakan implementasi dari beberapa Peraturan Gubernur (Pergub) Bali. Berbagai jenis perlombaan bahasa dan aksara Bali, termasuk pula perlombaan busana adat Bali, merupakan wujud nyata dari Pergub No. 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali, dan Pergub No. 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali. Hal lain yang membuat PKB 2019 lebih spesial dibandingkan tahun sebelumnya adalah penyelenggaraan PKB 2019 mulai dari pawai pembukaan hingga penutupan, mempergunakan bahan-bahan dari alam seperti janur, daun enau, bambu, dan berbagai jenis bunga.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Adnyana menyatakan bahwa dekorasi dan properti yang digunakan akan terbebas dari bahan plastik sekali pakai. Arahan tersebut konsisten dengan pemberlakuan Pergub Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang pembatasan timbunan sampah plastik sekali pakai. Harapannya, selain memberi pengaruh terhadap keajegan budaya dan adat di Bali, PKB 2019 juga mampu mendorong masyarakat yang terlibat di dalamnya turut serta menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Aspek lain yang menjadi sasaran utama dari PKB 2019 adalah peningkatan geliat pariwisata di Bali. Pelaksanaannya yang biasanya jatuh pada hari libur sekolah, Juni-Juli, diharapkan mampu menyedot banyak wisatawan lokal maupun asing. Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, ‘’Kami berharap wisatawan bisa menikmati PKB dengan nyaman, sebab Bali adalah destinasi kelas dunia.’’

PKB diharapkan dapat menjadi daya tarik dan batu loncatan bagi para wisatawan untuk menghabiskan waktu lebih lama di Bali dan menyasar destinasi wisata lainnya untuk menjadi tujuan wisata berikutnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung pada bulan Juni 2018 sebanyak 544.550 orang dan pada bulan Juli 2018 sebanyak 624.366 orang.

Jumlah ini berada di atas rata-rata kunjungan wisman setiap bulannya yang berkisar 505.872 orang. Bahkan, jumlah ini melebihi kunjungan pada bulan yang tergolong peak season yakni November 2018 dan Desember 2018, masing-masing 406.725 orang dan 498.819 orang. Kondisi ini diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap jumlah kunjungan PKB setiap tahunnya, sehingga pada akhirnya, festival budaya itu sendiri yang menjadi alasan wisatawan untuk berkunjung ke Bali.

Industri penunjang pariwisata tidak mau ketinggalan dalam mendulang manfaat dari festival budaya Bali ini. Hotel dan sarana akomodasi lainnya, merupakan penunjang utama pariwisata di Bali. Merujuk pada data BPS Provinsi Bali, persentase Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Berbintang di Bali bulan Juni dan Juli 2018 berturut-turut 70,32 persen dan 74,40 persen.

Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya pada tahun yang sama. Serupa dengan hotel berbintang, TPK hotel nonbintang Juni-Juli 2018 mencapai 36,69 persen dan 36,68 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Peningkatan TPK hotel ini tidak serta merta disebabkan oleh kondisi high season akibat liburan sekolah, melainkan dapat disebabkan karena diselenggarakannya PKB pada bulan tersebut.

Baca juga:  Ombak Tinggi, Wisatawan Dilarang Mendekati Waterblow

Kondisi ini diharapkan dapat menciptakan hubungan mutualisme antara pelaksanaan PKB dan peningkatan hunian hotel di Bali. Peningkatan jumlah wisatawan pada Juni-Juli 2018, yang terlihat pula pada peningkatan TPK hotel pada bulan tersebut diharapkan mampu menjadi pemberi manfaat sekaligus penerima manfaat dari terselenggaranya perhelatan festival budaya tahunan ini.

Berwisata ke Bali khususnya ke PKB tentu tidak lengkap apabila tidak mencoba wisata kulinernya. Lapangan usaha restoran dan rumah makan turut mengambil peran dalam pelaksanaan PKB. Masih merujuk pada data BPS Provinsi Bali, pelaksanaan PKB yang jatuh pada akhir triwulan II dan awal triwulan III 2018, diikuti dengan peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali pada kategori penyedia makan minum sebesar 3,12 persen pada triwulan II dan 3,11 persen pada triwulan III.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya hubungan antara pelaksanaan PKB di Bali dengan perkembangan output industri pariwisata khususnya restoran. Tidak menjadi hal yang aneh, sebab restoran zaman sekarang khususnya di Bali, tidak sekadar menjual makanan, namun perpaduan cita rasa yang khas, serta lingkungan dan suasana yang tepat, seperti halnya wisata kuliner yang tersedia di arena PKB atau seputaran destinasi wisata di Bali.

Selain menikmati pertunjukan dan kuliner yang disuguhkan PKB, wisatawan juga akan dimanjakan dengan berbagai macam barang kerajinan dan kesenian Bali. Salah satu kerajinan yang masih menjadi primadona adalah patung dan ukiran dari kayu. Wadah yang disediakan PKB untuk para seniman dalam memamerkan hasil karyanya, mampu meningkatkan pendapatan mereka.

Terlebih lagi, kebijakan untuk menggratiskan para pelaku industri mikro kecil dalam mendirikan stan pameran, bisa dijadikan sebagai ajang promosi sekaligus ajang memperoleh keuntungan. Merujuk pada data BPS Provinsi Bali, triwulan II dan III tahun 2018, pertumbuhan PDRB industri kayu, barang dari kayu dan gabus serta barang anyaman dari bambu, rotan, dan sejenisnya mengalami pertumbuhan positif sebesar 1,64 persen dan 2,59 persen. Fenomena ini lagi-lagi menunjukkan kepada kita bahwa PKB tidak hanya bertujuan untuk menjaga kelestarian budaya Bali, namun meningkatkan perekonomian di Bali dari berbagai sektor ekonomi.

Tidak hanya wisatawan asing, wisatawan lokal juga sering kali antusias untuk menambah koleksi barang kesenian khas Bali, seperti kerajinan perak dan kain tenun yang bisa mereka peroleh di pameran PKB. Waktu pelaksanaan PKB yang bertepatan dengan hari libur sekolah, membuat para wisatawan memiliki waktu yang lebih lama untuk menikmati pertunjukan sekaligus memilih barang-barang kesenian Bali yang mereka minati.

Berkaca dari pengalaman tahun lalu, total transaksi di PKB mencapai Rp 14 miliar atau meningkat 10 persen dari tahun 2017. Transaksi yang terjadi didominasi oleh penjualan produk kesenian kain tenun dan kerajinan perak. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Putu Astawa mengatakan bahwa peningkatan transaksi tersebut disebabkan karena pengunjung PKB yang semakin meningkat ditambah dengan jenis pameran yang semakin beragam.

Dengan beragamnya kegiatan yang disuguhkan oleh PKB setiap tahunnya, berbagai manfaat sosial, budaya, dan ekonomi akan dirasakan oleh setiap orang yang berpartisipasi di dalamnya. Tak hanya itu, inovasi-inovasi yang disajikan di PKB 2019 seperti implementasi beberapa pergub, dan stan yang gratis untuk para pelaku industri mikro kecil, membuat PKB 2019 cocok dikatakan sebagai ‘’Paket Komplet’’ untuk belajar budaya, berlibur, sekaligus mendulang keuntungan.

Penulis, ASN Badan Pusat Statistik Kabupaten Gianyar

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.