nusa penida
Ilustrasi. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Naik turunnya kasus Demam Berdarah Denque (DBD) dulu mengikuti siklus lima tahunan. Ada tahun-tahun tertentu yang menjadi acuan terjadinya peningkatan atau penurunan kasus tahun berikutnya. Namun, seiring  perubahan sifat virus DBD dan tingkat kesadaran masyarakat dalam melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), siklus lima tahunan ini tidak lagi menjadi acuan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Ketut Suarjaya menyatakan, saat ini tren insident rate (IR) atau angka kesakitan DBD di Bali menurun setiap tahunnya. ”Jadi, sekarang siklus lima tahunan sudah tidak menjadi acuan lagi karena IR di Bali trennya menurun,” ujarnya, Senin (24/6).

Berdasarkan data tahun 2019, kasus DBD di Bali cenderung mengalami naik turun. Pada Januari tercatat 338 kasus, Februari naik menjadi 668 kasus, Maret kembali turun menjadi 480 kasus dengan satu orang meninggal dunia, April turun lagi menjadi 531 kasus dan pada Mei menjadi 102 kasus. Total kasus DBD di Bali selama lima bulan pertama tahun 2019 adalah 2.119 kasus.

Baca juga:  Semester I 2019, Jumlah Penderita DBD di Jembrana Alami Peningkatan

Jika dilihat per kabupaten/kota, jumlah kasus DBD terbanyak ditemukan di Denpasar (561), selanjutnya Buleleng (401), Gianyar (341), Badung (297), Klungkung (207), Bangli (107), Karangasem (77), Tabanan (75), dan Jembrana (53). Namun, kalau dilihat dari angka IR, tertinggi dipegang Klungkung yaitu 116,1 disusul Buleleng sebesar 61,0. ”Perhitungan IR artinya jumlah kasus per 100.000 penduduk. Misalnya di Klungkung IR-nya 116,1, maka dari 100.000 penduduk angka kejadian kasus DBD-nya sebanyak 116,1,” jelas Suarjaya.

Tingginya angka IR dalam suatu daerah artinya keberadaan vektor penular dalam hal ini nyamuk aedes aigypti masih tinggi. Jadi, daerah-daerah dengan IR tinggi didorong untuk lebih rajin menerapkan PSN dan menjaga kebersihan lingkungan. Dalam menurunkan angka IR ini, pihak Dinas Kesehatan menerapkan tiga hal pokok yaitu surveilan penyakit, pemberantasan vektor penular dalam hal ini nyamuk dan pemberdayaan masyarakat. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.