DENPASAR, BALIPOST.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI salah satunya akan menampilkan kesenian arja klasik khas Peliatan, Ubud. Kesenian hasil rekonstruksi itu akan dibawakan Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Gianyar, di Kalangan Ayodya, Taman Budaya, Minggu (23/6) malam.

“Kejayaan arja pada masanya, menjadi memori yang tiada dua dalam perkembangan seni saat ini,” ujar Koodinator Sanggar, I Wayan Sudiarsa yang akrab disapa Pacet.

Menurut Pacet, arja merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang bercerita tentang kisah Panji. Didalamnya selalu terselip pesan-pesan tentang kebijaksanaan, serta intisari dari karya sastra dan lagu.

Sayangnya, arja tak melulu bisa eksis mengikuti zaman. Namun mengalami pasang surut, hingga sampai pada titik generasi muda tidak lagi menjadikannya sebagai bentuk kesenian populer.

“Upaya pelestariannya terkendala kurang menariknya kesenian arja untuk dipelajari lantaran susah dan pakem yang mengikat,” jelas Dosen Unhi Denpasar ini.

Di Peliatan, Ubud khususnya, lanjut Pacet, arja pada masanya merupakan kesenian yang mencerminkan karakter masyarakat setempat. Oleh karena itu, pihaknya terdorong untuk melestarikan arja agar tidak punah.

Kendati, sanggar yang dipimpinnya harus melewati proses panjang. Dimulai dengan mempelajari gending/tabuh yang akrab disebut Geguntangan kepada maestro-maestro tabuh Geguntangan.

Baca juga:  Konsultasi Soal Uang Kepeng Bisa Dilakukan di PKB

Diantaranya Cokorda Alit Hendrawan, Dewa Nyoman Sura, dan Alm. Gusti Ketut Karta. “Kami lalu ditunjuk oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar sebagai Duta Arja Klasik dalam PKB XLI. Kesempatan yang baik ini dijadikan sebagai tonggak awal dalam melanjutkan kesenian Arja Klasik Peliatan,” paparnya.

Pacet menambahkan, proses latihan juga melibatkan seniman Arja Singapadu yaitu Ni Nyoman Candri (putri dari seniman Arja, Alm. I Made Kredek) dan I Ketut Kodi (putra dari seniman topeng dan sangging, Alm. I Wayan Tangguh). Pasalnya, jejak leluhur terdahulu memperlihatkan adanya hubungan istimewa antara Peliatan dan Singapadu.

Selain itu, Prof. I Wayan Dibia (putra seniman Arja, Alm. I Wayan Geria) juga ikut mendampingi dan berbagi pengalaman estetik kepada para penari dan penabuh. Sebagian besar para penari arja berasal dari Desa Singapadu sedangkan penabuh dari Desa Peliatan.

“Hubungan para kreator terdahulu, diharapkan dapat disambung kembali dan proses perjalanan rekonstruksi Arja Klasik mendapatkan restu dari para leluhur terdahulu,” pungkasnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.