Peserta lomba sedang membuat produk anyaman dari bambu. (BP/rin)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI diisi dengan lomba kerajinan tempat buah dari anyaman bambu di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya, Jumat (21/6). Lomba hanya diikuti 12 peserta dari 5 kabupaten/kota. Kabupaten lain seperti Bangli, Jembrana, Tabanan, dan Badung tak mengirimkan peserta.

Hal inipun disayangkan juri, terutama dengan absennya Bangli yang dikenal sebagai sentra anyaman bambu. “Bangli sayang sekali tidak mengirim, padahal disana kan sentranya kerajinan bambu. Dari bentuk keben, sokasi itu kan beraneka macam dari sana,” ujar Koordinator Tim Juri, Ketut Muka Pendet disela-sela lomba.

Padahal, lanjut Muka, kabupaten/kota sudah diimbau mengirim minimal 3 peserta sejak jauh-jauh hari sebelum PKB. Mengingat, lomba salah satunya bertujuan untuk menjaga keberlanjutan sebuah produk anyaman Bali. Kalau desainnya bagus, tidak tertutup kemungkinan produk itu bisa dijual dan bahkan dipatenkan.

Pihaknya tidak mengetahui alasan pasti empat kabupaten yang tidak mengirim peserta. Apakah karena faktor miss komunikasi atau terkendala anggaran. “Saya kurang tahu itu. Padahal dari Singaraja saja ikut lomba,” imbuhnya.

Muka berharap Dinas Perindustrian dan Perdagangan bisa lebih menumbuhkembangkan kerajinan anyaman bambu. Bukan berarti kerajinan itu mati, tapi bagaimana agar masyarakat bisa ikut berperan serta dalam PKB.

Baca juga:  Sekaa Gong Manggeh Jayengrat, Duta Badung Tampil Memukau

Di samping sebagai ajang pembuktian dalam lomba, PKB juga bisa dimanfaatkan untuk promosi kewilayahan dari sebuah produk. Terlebih sekarang, pasar anyaman bambu sudah mengglobal lantaran Bali menjadi tujuan wisata dunia. Itu sebabnya, lomba difokuskan pada kerajinan tempat buah karena mengacu kebutuhan pariwisata. “Produknya kan sudah merambah hotel dan restoran, berbagai desain. Cuma sayang kenapa tidak aktif berperan serta di dalam ajang seperti ini,” jelas Dosen Seni Rupa ISI Denpasar ini.

Potensi paling besar, menurut Muka memang ada di Bangli. Lalu disusul Singaraja dan Gianyar. Disamping menghasilkan bahan baku bambu, faktor lingkungan juga turut membentuk masyarakat di daerah-daerah tersebut untuk menekuni kerajinan anyaman bambu.

Anggota Tim Juri, Wayan Sukarya memaparkan Kota Denpasar, Kabupaten Klungkung dan Gianyar masing-masing mengirim 2 peserta. Sedangkan Kabupaten Buleleng dan Karangasem, masing-masing mengirim 3 peserta.

Para peserta wajib menggunakan bahan ramah lingkungan yakni bambu dan harus memperagakan keahliannya menganyam di hadapan juri dan masyarakat umum. Aspek penilaian meliputi ide, estetika, dan finishing. “Mereka diberi waktu satu jam untuk workshop saja untuk menunjukkan bahwa peserta sudah biasa mengerjakan anyaman. Karya yang dinilai sudah dibawa dari rumah,” ujarnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.