MANGUPURA, BALIPOST.com – Pascapenertiban mafia pariwisata Tiongkok di Bali oleh pemerintah Provinsi Bali, jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali yang dulunya paling tinggi dibandingkan negara lain, terus merosot. Dari data kedatangan penumpang di Bandara Ngurah Rai selama bulan April tahun 2019 saja, kedatangan wisatawan Tiongkok sebanyak 96.200 orang.

Jumlah ini mengalami penurunan sebesar 22 persen jika dibandingkan dengan periode sama pada 2018 yaitu sebanyak 123.706 orang. Sedangkan untuk jumlah kunjungan pada Mei 2019, juga mengalami penurunan dengan jumlah kedatangan 89.281 orang.

Jumlah ini mengalami penurunan sebesar 29 persen jika dibandingkan periode sama tahun 2018 yaitu 125.240 orang. Posisi jumlah wisman Tiongkok ini juga disalip oleh wisman Australia dengan jumlah 95.189 orang pada Mei 2019.

Pasar China merupakan pasar yang sangat penting bagi Indonesia dan Bali khususnya karena merupakan pasar utama dengan total kunjungan mencapai 1,3 Juta di tahun 2018 dan terjadi penuruan hampir 30% semanjak dilakukan penataan toko-toko yang menjual produk China di Bali. Pemerintah melakukan recovery program dengan mengirimkan rombongan Industri dan pemerintah yang dipimpin langsung oleh Wakil Gubernur Bali pada November 2018 untuk memulihkan kepercayaan pasar China terhadap destinasi Bali.

Terkait penurunan jumlah kunjungan wisman Tiongkok ini, pemerintah Kabupaten Badung juga terus melakukan beragam upaya. Salah satunya, melalui Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD), Kabupaten Badung melakukan promosi ke Tiongkok.

Salah seorang anggota BPPD Badung, I Wayan Wijana yang juga Manager Pengelola Objek Wisata Kawasan Luar Pura Uluwatu mengatakan, dengan promosi ini, diharapkan bisa meningkatkan jumlah kunjungan ke Badung dan Bali pada umumnya. Diakuinya, selama ini, jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke kawasan Uluwatu memang selalu mendominasi. Yaitu sebesar 40 persen wisataan Tiongkok dan sisanya domestik dan mancanegara.

Baca juga:  Kecil, Antusiasme Daftar Beasiswa ke LN

Dikatakan, wisatawan Tiongkok mendominasi kunjungan ke Uluwatu karena mereka memang mencari budaya dan alam. Ia mengakui, pasca ditertibkannya mafia Tiongkok, jumlah kunjungan ke Uluwatu sempat turun sebesar 25 persen.

Melalui promosi ini, pihaknya berharap bisa mengembalikan jumlah kunjungan ke Uluwatu, maupun ke objek wisata lain di Badung. “Secara geografis, sosial budaya dan hubungan kenegaraan diharapkan ada peningkatan sampai paling tdk 20-25%. Bukan hanya ke uluwatu dan Labuansait, tetapi diharapkan semua destination di Badung dan juga Bali,” kata Wijana yang ikut dalam kegiatan tersebut.

Rombongan Sales Mission di Tiongkok ini dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Badung, Drs. I Ketut Suiasa, SH dari 16 – 22 Juni 2019. Hasil pertemuan dengan pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Beijing, Deputy Director General Pariwisata dan Kebudayaan Beijing – China, Wang Yue mengatakan, penertiban mafia tersebut, diserahkan pada regulasi pemerintah Provinsi Bali. Namun, pihaknya juga meminta agar terkait pariwisata perlu di lengkapi pemandu, fasilitas dan pelayanan yang berbahasa Mandarin di masing-masing destinasi. Sehingga wisatawan khususnya Tiongkok bisa mengerti tentang keberadaan obyek di Badung dan Bali pada umumya. (Yudi Karnaedi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.