PPDB
Suasana PPDB. (BP/dok)

Dunia pendidikan setiap tahun mencatat ‘’sejarah’’ karena tiap tahun ada perubahan dalam pola rekrutmen anak didik. Tak hanya diperguruan tinggi, pola rekrutmen di tingkat sekolah menengah juga demikan.

Selalu berubah dan dampaknya membikin orang tua ikut resah. Fakta ini tentu harus diurai dengan pendekatan yang sedapat mungkin bisa memastikan pola rekrutmen yang jelas.

Tak bisa dipungkiri pola baru dalam penerimaan peserta didik baru ini telah menjadi masalah serius. Setidaknya setiap awal tahun ajaran baru, para orangtua sibuk dan sekolah juga tak bisa merespon tuntutan banyak pihak.

Keterbatasan daya tampung sekolah negeri tetap menjadi masalah serius. Di sisi lain, keinginan orang tua agar anaknya dapat diterima di sekolah negeri yang bermutu juga sangat kuat.

Celakanya, sering kali orang tua mengabaikan potensi anak. Makanya, niat orang tua menyekolahkan anak di sekolah bermutu harus dikorelasikan juga dengan kemampuan dan minat anak.

Ini menjadi hal penting untuk dibudayakan agar anak tidak menjadi pelaksana keinginan orang tua. Biarlah anak tumbuh dan berkembang sesuai cita-cita dan keinginannya.

Anak juga punya selera tersendiri dalam hal memilih sekolah. Untuk itu, biarkan anak menentukan pilihannya dan tugas orangtua adalah memberikan gambaran masa depan dan tantangan ke depan.

Prospek lulusan dan peluang kerja yang terbuka bagi anak tetap harus diberitahu, namun bukan berarti orangtua memaksakan kehendak pada anak untuk ikut selera orang tua. Anak jangan dipaksa mewujudkan cita-cita orangtua.

Baca juga:  Konvoi Ugal-ugalan, Pelajar Dihukum "Push-up"

Untuk itulah, pola-pola pengelolaan dunia pendidikan ke depan tetap memperhatikan kecakapan dan potensi anak. Orangtua hendaknya menjadi pendamping yang bijak dalam menentukan sekolah bagi anaknya, bukan malah memasakan kehendak.

Orang tua yang bijak, mestinya paham betul kualitas dan potensi anak, sehingga anak dalam melanjutkan pendidikannya tidak tersandera target orang tuanya. Solusinya, orang tua dan anak bisa saling menyampaikan kelebihan dan kekurangan sekolah atau jurusan yang diinginkan masing-masing.

Jangan sampai keinginan orang tua membebani anak. Meski, anak termasuk siswa berprestasi dan potensial jika salah pilih tentu akan melahirkan kekecewaan.

Misalnya, anak potensial di bidang seni tari, bahkan termasuk berprestasi dipaksakan untuk melanjutkan sekolah jurusan tata boga, tentu akan mematikan potensi anak. Artinya, kegagalan sudah di depan mata.

Orang tua harusnya membuka dialog tanpa membuat keraguan, kecemasan, dan kegalauan pada anak. Ketika tiba waktunya anak memilih sekolah yang diinginkan, ia akan menyampaikannya sejak jauh hari.

Momen ini juga dapat dijadikan orang tua untuk mengutarakan harapan dan keinginan agar anak bersekolah di tempat yang telah dipilihkan. Namun, belum banyak orang tua demikian.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.