SEMARAPURA, BALIPOST.com – Cuaca buruk gelombang pasang disertai angin kencang, tidak hanya menganggu aktivitas penyeberangan. Cuaca buruk ini juga membuat para petani rumput laut gagal panen.

Situasi demikian membuat petani harus melakukan tanam ulang dan memperkuat konstruksi areal budidaya, agar rumput laut tidak terbawa arus. Salah satu petani rumput laut, Wayan Suarbawa, Senin (17/6), menyampaikan banyak rumput laut miliknya yang seharusnya siap panen, akhirnya gagal panen.

Sebab, gelombang pasang terus terjadi dalam tiga hari terakhir, sejak 13 Juni. “Areal rumput laut saya usianya sudah 45 hari. Biasanya sudah panen. Baru mau turun untuk memanen, keburu diterjang gelombang pasang,” kata Suarbawa.

Gelombang dashyat, membuat areal rumput lautnya seluas 10 are, tidak bisa dipanen. Di dalam areal itu, dipasang tali ris atau tali pematang.

Satu are biasanya diisi satu 100 ris. Jadi, saat terjadi gelombang dashyat itu, sekitar 1.000 ris langsung hanyut.

Dari jumlah itu, dampak terparah terhadap terjangan gelombang terjadi pada 175 ris dengan rumput laut jenis cattoni. Padahal seluruhnya sudah siap panen.

Ini mengakibatkan pihaknya mengalami kerugian sekitar Rp 3 juta. Selain kehilangan rumput laut siap panen, dan rusaknya rumput laut yang baru berusia 15 hari, gelombang pasang itu juga merusak bibit rumput laut di sekitarnya. “Kalau rumput lautnya sudah siap panen, pasti hanyut. Karena kami tidak pasang jaring di sekitarnya. Beruntung juga konstruksi tidak hancur oleh gelombang. Konstruksinya masih kuat,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung, Wayan Durma mengatakan situasi yang dialami petani, menurutnya biasa terjadi. Faktor alam memang sudah dihindari.

Baca juga:  2019, Periode Januari-April Luas Panen Diestimasi Turun

Tetapi, rumput laut yang hanyut, kata dia, bisa saja kembali lagi, ketika terbawa arus. Meski cuaca juga menghalangi upaya untuk mengembangkan rumput laut, pihaknya tetap optimis dengan beberapa upaya yang yang dilakukan.

Sosialisasi terus dilakukan kelompok-kelompok masyarakat, seperti di Desa Ped, Suana bahkan juga di Lembongan. Tujuannya untuk menggalakkan kembali budidaya rumput laut, sebagai aktivitas penyangga, selain pariwisata yang justru masih fluktuaktif.

Setelah para petani kini sudah kembali bergairah, dia menyampaikan masalah teknis lainnya adalah soal kurangnya lokasi penjemuran. “Solusinya, para pembeli rumput laut yang menghubungi kami, katanya berani membeli rumput laut dalam kondisi basah. Sebab, sebelum pembeli hanya mau membeli yang kering. Ini tentu membuat niat petani berani membudidaya rumput laut, semakin tinggi,” tegasnya.

Seperti di Lembongan saja, kata Durma, sesuai dengan data yang diterima dari Perbekel Lembongan, sudah ada sekitar 200 orang lebih yang ingin terjun lagi membudidayakan rumput laut. “Kami akan bertemu kembali dengan orang-orang ini untuk membentuk kelompok tani, karena kami tidak mungkin memberikan bantuan secara perorangan. Ini juga mempermudah untuk pengawasan dan pembinaan. Demikian juga di Nusa Gede,” jelasnya.

Mayoritas masyarakat yang mau terjun kembali, dikatakan warga yang sudah berusia lanjut. Sebab, bagi warga yang masih berusia produktif, melihat hasil berkecimpung di dunia pariwisata tentu lebih tinggi. Apalagi rumput laut ini baru kembali berkembang, setelah sempat tergerus oleh gemerlap dunia pariwisata. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.