DENPASAR, BALIPOST.com – Properti pawai Pesta Kesenian Bali (PKB) XLI belum sepenuhnya memakai bahan-bahan ramah lingkungan. Seperti misalnya logo kabupaten, masih ada kontingen yang memakai styrofoam.

Kendati secara umum, properti sudah didominasi bahan-bahan alami seperti janur dan bunga segar. Seperti properti panggung kehormatan, sudah dibuat ramah lingkungan. “Jadi memang tidak bisa sepenuhnya. Memang berpulang pada kontingen itu. Tapi secara umum jauh lebih dominan yang ramah lingkungan,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan “Kun” Adnyana di sela-sela pawai PKB XLI di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Niti Mandala, Renon, Denpasar, Sabtu (15/6).

Kun mengaku sudah mengkonfirmasi beberapa kepala dinas kebudayaan kabupaten yang masih menggunakan styrofoam. Utamanya untuk logo kabupaten/kota.

Properti tersebut sebetulnya sudah dipakai tahun lalu. Pada PKB kali ini dipakai lagi karena alasan keterbatasan dana. “Untuk ke depan harus lebih baik lagi. Jadi yang sudah kita sepakati agar dijadikan pijakan untuk menata pawai kedepan lebih ramah lingkungan,” imbuhnya.

Jajan Sarad

Kabupaten Gianyar merupakan salah satu kontingen yang sudah sepenuhnya memakai properti berbahan ramah lingkungan. Untuk hiasan kereta yang membawa gamelan, tampak memakai hiasan janur dan bunga.

Baca juga:  Jadwal PKB, Kamis 20 Juni 2019

Paling menarik adalah logo kabupaten, dibuat memakai jajan sarad yang biasa digunakan untuk banten. “Bikin jajan ini waktunya cuma tiga hari saja. Full begadang, dari kemarin saya belum tidur. Kira-kira ada 25 orang yang mengerjakan,” ujar Konseptor properti dari jajan sarad, Made Giri.

Menurut Giri, bahan dasar jajan sarad yang dipakai logo adalah tepung beras dan tepung ketan ditambah pewarna makanan. Pria yang berprofesi sebagai artist kitchen di hotel ini mengaku setuju dengan penggunaan bahan-bahan organik untuk properti PKB. Baik pada saat pawai maupun pementasan. “Saya setuju. Di rumah juga memilah plastik, bahkan di desa pun sudah mulai begitu,” jelasnya.

Konseptor pawai Kontingen Gianyar, Kadek Sulastra mengatakan, janur juga dipakai sebagai bahan utama properti kereta dorong untuk gamelan. Bahan ramah lingkungan seperti janur memang lebih sulit dirangkai untuk menjadi properti.

Tingkat kerumitan yang sangat tinggi itu tidak dibarengi dengan ketahanan janur. Artinya, janur tidak bisa dirangkai jauh-jauh hari karena berisiko layu. “Kita cuma dapat waktu 3 hari saja untuk pengerjaannya,” ujarnya. (Rindra Devita/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.