Lomba mepidarta Bali tingkat SMP yang diadakan Dewan Pendidikan Tabanan. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Meski sudah ada aturan penggunaan bahasa Bali, rupanya masih banyak generasi muda yang belum sepenuhnya bisa berbahasa Bali. Melihat fenomena itu, Dewan Pendidikan Tabanan terus berupaya menggeliatkan penerapan bahasa Bali di kalangan siswa SD dan SMP melalui lomba mesatua Bali dan mepidarta Bali yang digelar Senin (10/6).

Ketua Dewan Pendidikan I Wayan Madra Suartana menerangkan, bahasa Bali yang dianggap sebagai bahasa ibu ternyata keberadaannya tergerus di masyarakat. Para orangtua sudah jarang mengajarkan anaknya bahasa Bali. Di sisi lain, generasi muda mulai enggan berbahasa Bali, melainkan lebih menggunakan bahasa nasional (bahasa Indonesia).

Setelah Pemerintah Provinsi Bali memiliki dua instrumen untuk melindungi bahasa Bali dari kepunahan, secara perlahan penggunaan bahasa Bali mulai dibiasakan. “Setiap Kamis sudah diterapkan di sekolah. Untuk lebih menggeliatkan penggunaan bahasa Bali di kalangan generasi muda, kami sengaja menggelar lomba ini yang juga bertujuan mencari bibit seni untuk bisa tampil di lomba tingkat lebih tinggi,” terangnya.

Lomba bukan baru dilakukan kali ini saja, tetapi sudah rutin digelar beberapa tahun silam. “Ini sifatnya lanjutan, bukan kegiatan mendadak karena ada instruksi Gubernur Bali, dan akan terus kami gelar sepanjang masih ada kesempatan dan dukungan dari pihak sekolah,” ungkap Suartana.

Baca juga:  Sambangi Klungkung, PBNU Apresiasi Program TOSS

Menurutnya, Dewan Pendidikan Tabanan melihat penggunaan bahasa Bali di tingkat sekolah belum maksimal. Maka dari itu, peran para guru di sekolah khususnya guru SD untuk memperkenalkan dan membuat pelajaran bahasa Bali dibawakan semenarik mungkin. “Sekarang tergantung kebiasaan sejak awal, bagaimana agar pembelajaran bahasa Bali dapat dibuat semenarik mungkin. Itu yang penting dilakukan guru-guru di sekolah,” tambahnya.

Asisten I I Wayan Miarsana yang juga Plt. Dinas Pendidikan Tabanan sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan Dewan Pendidikan. Diakuinya saat ini masih banyak genarasi muda yang belum fasih menggunakan bahasa Bali untuk berkomunikasi dengan rekannya. “Saya melihat ada kecenderungan bahasa ini kurang dimanfaatkan. Ke depan, pariwisata Bali inti pokoknya adalah budaya dan keindahan alam, di samping bahasa Bali harus dikuasai dengan baik,” jelasnya. (Dewi Puspawati/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.