Seorang perajin sedang menenun. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Adanya teknik kain bordir yang saat ini sedang digandrungi masyarakat Bali karena harganya yang lebih murah, membuat kain tenun asli Bali terancam punah. Adanya kekhawatiran iitu diungkapkan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Propivinsi Bali, Putri Suastini Koster.

Ia pun mengajak para perajin dan pelaku IKM khususnya yang menggunakan teknik bordir untuk menciptakan desainnya sendiri dan tidak mengkopi desain kain tenun Bali, khususnya songket yang sudah ada selama ini. “Kini hulunya yaitu pohon kapas sebagai bahan baku benang kita sudah tidak ada dan harus disediakan dari luar. Sekarang tenaga penenunnya terancam punah lima sampai 10 tahun lagi karena produknya jarang yang mau membeli,” ujarnya.

Ancaman punahnya penenun Bali yang berimbas pada punahnya kain tenun asli Bali ini, menurutnya disebabkan maraknya teknik bordir dengan motif mengikuti tenun Bali. “Sekarang ini banyak teknik bordir yang mengambil motif dari songket. Produk ini dibanding-bandingkan oleh konsumen,” ujar Putri Koster.

Bagi para ibu-ibu yang menjadi konsumen, tentu akan memilih teknik bordir. Karena selain lebih murah, penampilan kain bordir juga mirip dengan kain tenun dimana motifnya sama dan benangnya yang lebih berkilat. Sebagai perbandingan harga, tenik kain bordir harganya dikisaran Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu sementara kain tenun yang ditenun dengan teknik cag-cag harganya bisa sampai jutaan sampai puluhan juta. Dengan minimnya minat konsumen membeli kain tenun Bali dan beralih pada kain bordir tentu lama kelamaan akan mematikan usaha kain tenun Bali. ”Lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, penenun yang ada di Bali akan gulung tikar usahanya karena produknya jarang dibeli,” ujar Putri Koster.

Baca juga:  Ny Putri Koster "Blusukan" Serap Aspirasi Perajin

Agar sama-sama berkembang dan sekaligus melestarikan kain tenun Bali, Putri Koster mengajak para perajin maupun pelaku usaha IKM di bidang kain untuk menciptakan motif sendiri bagi kain bordir. Untuk kain tenun, motif yang sudah ada saat ini perlu direkontruksi dan diadakan lagi sehingga ada keragaman dan lestari.

Cara lain adalah pelaku IKM kain bordir mendorong konsumen memakai kain bordir untuk busana karena teksturnya yang lebih ringan, sementara kain tenun yang berat dipakai untuk kamen. “Kalau bersama-sama melakukan tentu kita bisa meningkatkan kesejahteraan secara merata di perajin, baik itu kain tenun maupun kain bordir,” harap Putri Koster.

Salah satu pelaku IKM kain bordir, Jro Puspawati Saskara sependapat dengan yang dipaparkan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali. Menurutnya, sebagai pelaku IKM yang menjual kain teknik bordir, selama ini pihaknya menjual dengan motif sendiri dan tidak meniru teknik kain tenun yang sudah ada.

Selain itu, menurut Jro Puspa, saat ini tenaga penenun Bali juga sudah sangat susah ditemukan. Karena hasil karyanya jarang terjual, kebanyakan penenun malah lebih memilih profesi lain, salah satunya jadi penjaga konter HP. “Mereka lebih bangga menjadi penjaga konter HP dibandingkan jadi penenun. Karenanya ajakan Ketua Deskrananda Bali membuat motif sendiri untuk kain bordir sangat saya dukung untuk melestarikan kain tenun Bali,” ujarnya. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.