DENPASAR, BALIPOST.com – Krama tamiu (penduduk pendatang) terhadap ekonomi Bali sangat besar. Kondisi ini diakibatkan jumlah migran yang masuk ke Bali cukup besar.

Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana sekaligus Kepala Pusat Penelitian Kependudukan dan Pengembangan SDM Unud Dr. I Gusti Wayan Murjana Yasa, SE., M.Si., tingginya kepadatan penduduk, disebabkan migran masuk yang tinggi. Kehadiran migran dalam jangka pendek dan menengah berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Hal ini disebabkan para migran tersebut sebagian besar ada pada usia produktif. “Mereka tidak saja bekerja pada berbagai bidang sektor informal, tetapi juga pada sektor formal,” ungkapnya.

Hasil studi menunjukkan pendidikan mereka, mulai dari tidak tamat SD sampai perguruan tinggi. Mereka yang berpendidikan rendah umumnya bekerja di sektor informal dan juga buruh kasar.

Sedangkan yang berpendidikan menengah ke atas selain di sektor informal mereka juga bersaing di sektor formal. Peran migran terhadap pembangunan dapat dilihat dari kesempatan kerja yang mereka isi, yang tidak diambil pekerja lokal.

Mereka juga dapat memberi inspirasi terhadap pekerja lokal dalam pengembangan ekonomi kreatif. Besarnya peran mereka dalam pembangunan ekonomi juga dapat dilihat dari besarnya tambahan pengeluaran dari tambahan pendapatan yang mereka peroleh.

Beberapa hasil studi menunjukkan pola konsumsi tambahan, khususnya para migran non permanen berkisar antara 0,3 samlai 0,4. “Itu berarti ada multiplier terhadap peningkatan pendapatan berkisar antara 1,4 sampai 1,7. Ini sangat kecil karena sebagian besar pendapatan dikirim sebagai remiten ke daeran asal,” ujarnya.

Baca juga:  Dinas Dukcapil Kabupaten/Kota Diminta Data Penduduk Pendatang

Dampak multiplier tentu berbeda dengan migran permanen yang pola konsumsi tambahannya relatif lebih tinggi. Kehadiran penduduk migran juga dapat meningkatkan tensi persaingan oleh pekerjaan, khususnya pada pekerjaan formal.

Sarat beban Bali terkait tingginya angka migran masuk juga dapat dilihat dari kebutuhan berbagai fasilitas baik ekonomi, sosial budaya, kenyamanan, kemanan, dan lainnya. Ke depan berbagai persoalan sosial ini akan menjadi beban sosial yang sangat mahal melebihi manfaat ekonomi yang diperoleh jika Bali tidak berhasil melakukan upaya pengendalian penduduk, khususnya penduduk pendatang.

Ketua HIPMI Bali Dr.dr. I Nyoman Dharma Putra, Sp.KK. juga menilai peran krama tamiu sangat besar. Sebab, krama Bali belum maksimal memproduksi produk yang dibutuhkan.

Ia menilai diambilnya peran beberapa lapangan usaha disebabkan masyarakat Bali belum jeli melihat peluang yang ada. Masyarakat Bali merasa lebih nyaman menjadi karyawan di hotel atau PNS karena risiko yang didapat akan lebih kecil.

Masyarakat Bali juga masih merasa berada di zona nyaman sehingga jiwa kewirausahaan belum tumbuh subur. “Jadi bukan tidak produktif tapi belum melihat peluang dan potensi ekonominya saja,” tandasnya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.