Bawang Putih. (BP/ist)

TABANAN, BALIPOST.com – Tahun 2019 ini Tabanan mendapatkan bantuan untuk pengembangan hortikultura bawang putih. Luasnya mencapai 225 hektar yang akan disebar di tiga kecamatan yaitu Pupuan, Baturiti, dan Penebel. Dalam memenuhi bibit bawang putih, Pemkab Tabanan melakukan tender untuk pengadaannya, tetapi gagal.

Kepala Bidang Peningkatan Produksi Tanaman Pangan dan Hortikulutra Dinas Pertanian Tabanan Wayan Suandra menyatakan, gagalnya tender pengadaan bibit bawang putih ini dikarenakan yang mendaftar cuma satu dan itu pun tidak lulus persyaratan administrasi. ”Rencananya dilakukan tender ulang,” ujarnya, Jumat (7/6).

Menurutnya, minimnya peminat mengikuti tender pengadaan bibit bawang putih ini kemungkinan karena petani yang menghasilkan bibit bawang putih lebih fokus untuk pemenuhan sendiri. Akibat gagal tender, rencana menanam bawang putih di Penebel, Baturiti, dan Pupuan terpaksa diundur. ”Seharusnya jika tender berjalan lancar, Juni ini sudah mulai tanam. Tetapi karena proses tender ulang, penanaman diundur hingga Juli,” paparnya.

Ia mengakui pemenuhan bibit bawang putih cukup sulit. Tahun 2018 lalu jatah program hortikultura untuk bawang putih yang seharusnya seluas 200 hektar hanya terealisasi 50 hektar. ”Saat itu karena sulit mendapatkan bibit sehingga pengadaannya terlambat dan petani banyak yang tidak berani menanam bawang putih sebab jadwal tanamnya mundur,’’ jelas Suandra.

Baca juga:  Dibantu Kemendag, Pasar Petang segera Direvitalisasi

Awalnya untuk bisa mengatasi kesulitan mendapatkatkan bibit, hasil panen dari program hortikultura bawang putih 2018 seluas 50 hektar dijadikan bibit. Hanya, hasil panen tidak begitu bagus karena hujan yang terus-menerus menyebabkan petani memutuskan panen muda agar tidak merugi.

Untuk itu, dalam memenuhi kebutuhan bibit bawang putih untuk program hortikultura 2019, pihaknya kemudian melakukan proses teder. Namun, langkah ini pun gagal. Tetapi pihaknya akan kembali melakukan tender ulang. Ada pun dalam pemenuhan bibit bawang putih ini pagunya Rp 34 juta per hektar. Anggaran ini termasuk untuk membeli bibit sekaligus pupuk organik. (Wira Sanjiwani/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.