SEMARAPURA, BALIPOST.com – Tuduhan penghianat yang disematkan pada Nyoman Suwirta membuat Bupati Klungkung itu mengambil sikap terhadap Partao Gerindra. Ia memutuskan keluar dari keanggotaan Partai Gerindra Klungkung, Kamis (23/5).

Ia mengambil sikap itu setelah muncul statemen “bersih-bersih” di grup WhatsApp, DPC Partai Gerindra Klungkung, karena Suwirta dianggap pengkhianat partai.

Surat pengunduran dirinya langsung, ditandatangani dan dikirim langsung ke Kantor DPC Partai Gerindra Klungkung. Surat pengunduran diri ini, lengkap dengan KTA Gerindra yang dikantonginya sejak enam tahun terakhir.

Di dalam isi suratnya, Bupati Suwirta mengaku keluar dari keanggotaan, karena ingin fokus menjalankan tugasnya sebagai bupati. “Jangan salahkan siapa yang menyebarkan screenshoot chat WA itu, mari pikirkan, kenapa isi di dalamnya bisa terjadi? Sebenarnya saya mau balas komentar teman-teman Gerindra, tetapi ternyata saya sudah dikeluarkan dari grup WA,” kata Suwirta, saat ditemui di ruang kerjanya.

Bupati Suwirta mengaku keluar dari Gerindra, karena menurutnya para elite Gerindra sendiri yang memberikan jalan baginya untuk keluar. Karena dengan hujatan, tudingan pengkhiatan dan anggapan tidak berbuat banyak untuk partai, membuat Bupati Suwirta harus tahu diri.

Baca juga:  Pendapatan Badung Turun, Begini Penjelasan Giri Prasta

Sebab, dirinya merasa sudah tidak dibutuhkan lagi di internal Gerindra. “Saya memutuskan ini tanpa tekanan siapapun. Ini sikap pribadi saya. Merekalah yang menghendaki saya keluar dari Gerindra,” tegas Suwirta.

Usai keluar dari keanggotaan Partai Gerindra, Bupati Suwirta juga menegaskan pihaknya tidak akan bergabung dengan partai politik manapun. Jangan sampai timbul kesan, keputusan besar ini diambil karena adanya rayuan partai besar lainnya, yang menginginkan dirinya sebagai kader partai.

Ia juga membantah perkiraan banyak orang bahwa dirinya akan memilih jalan “Satu Jalur” dengan Pemprov Bali yang kini dipimpin kader PDI Perjuangan.

Bupati Suwirta mengaku siap dengan segala risiko. Seperti risiko akan dipersulit dalam proses legislasi di lembaga dewan. “Kau yang memulai, kau pula yang mengakhiri. Setiap keputusan tentu ada risiko. Saya selalu siap dengan segala risiko,” tegas Suwirta. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.