Tiga KK terpaksa tinggal di tenda karena tidak memiliki rumah. (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Keterbatasan ekonomi memaksa tiga kepala keluaga (KK) di Dusun Penaga, Desa Yangapi, Tembuku tinggal dalam satu tenda terpal. Hal ini sudah mereka jalani sejak satu setengah bulan terakhir pascapulang dari merantau.

Tiga KK yang tinggal dalam satu tenda terpal tersebut yakni Ketut Bulat, Nengah Rusman dan Wayan Mudya. Mereka merupakan tiga bersaudara. Dalam tenda berukuran 7×4 meter itu, mereka hidup bersama masing-masing istri dan anaknya. Total jumlah jiwa yang selama ini menghuni tenda itu sebanyak 7 orang.

Di natah pekarangan tempat tenda itu berdiri, juga terdapat satu saudaranya yang lain yakni Wayan Sutama. Tak jauh berbeda dengan ketiga kakaknya, Sutama selama ini juga hidup dalam kondisi keterbatasan ekonomi. Ia selama ini menempati rumah kayu yang dibangunnya sendiri.

Ditemui Rabu (22/5), Ketut Bulat mengungkapkan, dirinya bersama istri, anak dan adik-adiknya terpaksa tinggal di dalam satu tenda terpal lantaran tak punya tempat tinggal. Sepulang dari merantau di Desa Bonyoh, Kintamani satu setengah bulan yang lalu, ia belum mampu membangun rumah untuk diri dan anggota keluarganya yang lain.

Tenda terpal yang ditempatinya merupakan sumbangan atau bantuan dari kerabatnya di Bonyoh. Bulat menuturkan ia sempat tinggal di Desa Bonyoh karena orang tuanya terlebih dahulu hidup merantau di desa tersebut.

Setelah 60 tahun tinggal di Bonyoh, ia bersama kedua saudaranya dan keluarga masing-masing memutuskan kembali tinggal di Dusun Penaga, yang merupakan desa leluhurnya. Keputusannya pulang ke Penaga, dikarenakan adat di Bonyoh mengharuskan adik bungsunya Wayan Sutama, menempati tanah pekarangan di Bonyoh.

Baca juga:  Pengungsi Gunung Agung Didata Ulang

Sementara sejak sepuluh tahun terakhir adik bungsunya itu sudah lebih dulu pindah ke Penaga dan menempati rumah kayu seadanya. “Sesuai adat di Bonyoh, rumah di sana hanya boleh ditempati oleh anak bungsu dalam hal ini adik saya Wayan Sutama. Karena saya tidak boleh mewarisi rumah itu, akhirnya saya pindah” jelasnya.

Saat kembali ke Penaga, ia mengaku tidak memiliki apa-apa. Termasuk rumah. Karena itu, pria yang kesehariannya bekerja sebagai buruh serabutan itu, terpaksa mendirikan tenda bersama adiknya.

Selama menempati tenda terpal yang mirip seperti posko pengungsi itu, ia mengaku harus tidur bertujuh. Saat hujan, tak jarang air hujan masuk ke dalam tendanya. Sebaliknya saat panas terik, suhu di dalam tenda membuat dirinya dan keluarganya kepanasan.

Ia pun berharap, di tengah keterbatasan ekonominya saat ini, Pemerintah bisa memberikannya bantuan rumah yang layak untuk tempat tinggal.

Sementara itu, ditemui di lokasi yang sama, Kadus Penaga I Nengah Rijasa mengaku cukup prihatin dengan kondisi tempat tinggal mereka. Ia mengaku sudah berupaya mengusulkan ke pemerintah agar keluaga tersebut bisa mendapat bantuan rumah.

Pemkab, kata dia, menjanjikan akan mengusulkan bantuan untuk keluarga tersebut dalam APBD Perubahan 2019. Selain mengusulkan ke pemerintah, ia juga mengaku sudah mencoba meminta bantuan kepada relawan. “Harapan kami bisa segera dibantu. Karena kalau ini menunggu lama, nanti takutnya terpalnya keburu robek dan tak bisa dipakai,” harap Rijasa. (Dayu Swasrina/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.