Pedagang pasar tumpah di Terminal Banyuasri mendatangi Kantor Disdagprin Buleleng. (BP/mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Lebih dari 100 orang pedagang pasar tumpah yang berjualan di lambung barat Terminal Banyuasri, Kecamatan Buleleng, datang ke kantor Dinas Perindustrian Perdagangan (Disdagprin) Buleleng, Jumat (17/5). Pedagang yang menyebut dirinya sebagai perintis pasar tumpah ini keberatan dengan ukuran kios berjualan di lambung timur terminal yang sempit. Mereka juga khawatir setelah relokasi muncul pedagang baru.

Sebelum mengadu ke Disdagprin, mereka terlebih dahulu mengajukan keberatan ke PD Pasar Buleleng. Hanya, pedagang belum puas atas penjelasan yang disampaikan direksi PD Pasar Buleleng. Sekitar pukul 08.30 Wita, pedagang pasar tumpah ini datang ke Disdagprin mengendarai sepeda motor. Karena jumlahnya banyak, mereka terpaksa ditampung di halaman kantor. Hanya perwakilan pedagang yang diterima oleh Kepala Disdagprin Buleleng Ketut Suparto. Dalam pertemuan itu, pedagang pasar tumpah menyampaikan keberatannya atas kebijakan relokasi oleh direksi PD Pasar Buleleng.

Salah satu perwakilan pedagang pasar tumpah Jro Made Purna mengatakan, sejak pasar tumpah beroperasi di lambung barat terminal, dirinya dan pedagang lain menempati ukuran kios 1 kali 2 meter persegi. Dengan ukuran ini pedagang nyaman menempatkan perlengkapan berdagang. Namun, di loaksi baru yakni lambung timur terminal, kios yang disiapkan berukuran 1 kali 1,5 meter persegi. “Boleh dibilang kami yang merintis pasar tumpah ini. Di lokasi lama kami bisa menaruh meja untuk jualan, sedangkan di tempat baru jangankan menaruh meja, berjualan saja sulit karena terjepit sesama pedagang,” katanya.

Selain itu, Purna dan teman-temannya khawatir pada saat direlokasi ke loaksi baru akan muncul pedagang baru. Kalau muncul pedagang baru, pedagang yang sudah merintis sejak awal akan tersaingi dan semakin rsempit ukuran kioas yang mereka dapatkan di loaksi pasar tumpah yang baru.

Baca juga:  Terminal Banyuasri Krodit, Pedagang di Pinggir Jalan akan Dicarikan Alternatif Lokasi Lain

Menganggapi keberatan itu, Suparto mengatakan sebelumnya pihkanya bersama direksi PD Pasar dan dinas terkait sudah melakukan koordinasi dan kajian teknis. Pengaturan ukuran kios di lambung timur diatur oleh direksi PD Pasar. Ukuran kios 1 kali 1,5 meter karena menyesuaikan dengan kapasitas areal lambung timur terminal. Mengingat hanya satu-satunya lokasi yang ada untuk merelokasi pedagang pasar tumpah, pemerintah daerah meminta pedagang memaklumi dan mendukung program revitalsiasi Pasar Banyuasri.

Kalau setelah relokasi masih ada pedagang pasar tumpah yang tidak mendapatkan tempat, Disdagprin bersama direksi PD Pasar akan mengoptimalkan sisa areal setelah pasar darurat selesai dibangun. “Lokasi di lambung timur timur memang lebih sempit daripada di lambung barat. Kami mohon pedagang memaklumi karena hanya itu lokasi satu-satunya yang dimiliki pemerintah. Nanti kalau sudah selesai pasar darurat sisa lahan akan kami berikan untuk lokasi berjualan,” ujarnya.

Terkait kekhawatiran akan ada pedagang baru, Suparto menjamin tidak ada. Pedagang dipersilakan menyampaikan kalau saat relokasi nanti ditemukan pedagang baru. Direksi PD Pasari dilarang menerima siapa pun pedagang baru. Sikap tegas ini karena sekarang saja pedagang pasar tumpah tercatat 434 orang, sehingga tidak memungkinkan penambahan pedagang baru. Setelah mendengar penjelasan itu, para pedagang pasar tumpah menyatakan bisa menerima dan berharap komitmen ini dijalankan sehingga tidak merugikan pedagang. Mereka kemudian meninggalkan kantor Disdagprin dengan tertib. (Mudiarta/balipost)

Foto: Ukuran Kios – Lebih dari 100 orang pedagang Pasar Tumpah di lambung barat Terminal Banyuasri mendatangi kantor Disdagprin Buleleng Jumat (17/5) kemarin. Mereka keberatan karena ukuran kios lokasi berjualan di lokasi yang baru di lambung timur Terminal Banyuasri sempit. (kmb38)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.