Wisatawan mancanegara berjalan-jalan di Kuta. Sepuluh anak punk diamankan di wilayah karena keberadaannya dikeluhkan masyarakat. (BP/wan)

DENPASAR, BALIPOST.com – Industri pariwisata sangat rentan terhadap isu keamanan dan kenyamanan, sehingga Bali dengan tulang punggung industri pariwisata harus menjaga hal itu. Karena turis atau wisatawan yang datang ingin tenang, nyaman, santai. Pariwisata Bali harus berbenah, agar masa depan pariwisata Bali menjadi lebih baik.

Ketua PHRI Denpasar I.B. Sidharta mengatakan, ancaman industri pariwisata di Bali yaitu kemacetan, antrean airport yang berkepanjangan, sampah, pembohongan dan pelecehan terhadap wisatawan telah menurunkan posisi Bali dari nomor 1 ke nomor 4 sekarang. ‘’Hal itu harus dikurangi sehingga Bali yang sudah punya branding bagus dan punya persaingan dengan destinasi dunia lain, harus tetap dipertahankan,’’ ujarnya.

Ia menyambut baik rencana Gubernur Bali membuat jalan lingkar dan kereta api dalam rangka mengatasi kemacetan, karena wisatawan yang ke Bali ingin kenyamanan dan ketenangan tanpa ada hambatan kemacetan.

Kesiapan di tempat objek wisata juga harus dilakukan. Objek wisata harus kreatif dan tidak membohongi wisatawan. Kebersihan dan sampah juga harus dijaga. Kondisi politik yang memanas saat ini juga dapat memengaruhi kondisi pariwisata Bali.

Kondisi kedatangan wisatawan mancanegara itu juga dapat diperparah dengan kenaikan harga tiket pesawat. Karena selama ini wisatawan domestik (nusantara) cukup mendongkrak tingkat hunian kamar di Bali. ‘’Weekend di Bali sekarang sudah agak slow. Sekarang orang dari Jakarta yang biasa berlibur 3-4 hari ke Bali, sekarang mereka mikir karena mahalnya harga tiket pesawat, apalagi mereka tidak sendiri tapi bersama keluarga,’’ ungkapnya.

Baca juga:  Wisata Bali Alami Kelesuan, Saatnya Pelaku Usaha Genjot Wisdom

Penurunan ini sangat terlihat pada triwulan I 2019. Kunjungan wisatawan domestik ke Denpasar khususnya sangat lambat. Kenaikan tiket pesawat juga memengaruhi wisatawan asing yang ingin mengeksplor Indonesia dari Bali atau dari wilayah lainnya ke Bali. Kenaikan harga tiket pesawat juga memengaruhi komponen wisata lainnya.

Pendapat berbeda diungkapkan Wakil I DPP IHGMA Made Ramia. Ia mengatakan prospek pariwisata Bali masih akan mengalami peningkatan 2-3 bulan ke depan. Walaupun ada gejolak harga tiket, politik memanas dan adanya rencana pungutan USD 10.

Mengingat bulan depan sudah libur Lebaran dan kemudian libur sekolah dan beruntun dengan musim liburan pada Juli – Agustus. ‘’Sebagai praktisi pariwisata kita mesti tetap optimis bahwa pasar pasti akan membaik. Namun kita tetap berharap kepada pemerintah mengkaji secara matang setiap kebijakan yang akan diambil, sebab dampaknya akan langsung di rasakan oleh industri,’’ ujar Ramia. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.