Gubernur Bali Wayan Koster yang didampingi Ny. Putri Suastini Koster serta Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra meluncurkan Program Semesta Berencana Bali Resik Sampah Plastik di Lapangan Umum Kintamani, Bangli, Minggu (7/4). (BP/ist)

Era teknologi membawa dampak ikutan yang tergolong revolusioner. Adaptasi teknologi pun membutuhkan daya kreatif dan inovasi yang cerdas. Kini, inovasi pun masuk dalam segala hal, baik dari segi produk, pemasaran hingga seni menjaga dan mengelola lingkungan agar tetap nyaman dan aman bagi kehidupan.

Inovasi dalam mengelola alam ini dijabarkan dalam bentuk kebijakan-kebijakan yang terukur dan berdampak nyata pada tata kelola lingkungan. Di Bali, gerakan menjaga sanitasi lingkungan pun bergulir cepat. Pada Bali era baru di bawah kendalai Gubenur Wayan Koster, terobosan nyata dilakukan baik dalam bentuk regulasi dan aksi nyata.

Setidaknya, dalam menjaga kualitas lingkungan, pergub tentang pelarangan plastik dan gerakan Bali bersih bergulir. Gerakan ini direspons publik dengan cepat. Ini menandakan ada kesadaran baru bahwa lingkungan yang nyaman akan menjadi ruang hidup yang berkualitas. Ini juga menandakan bahwa kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan termasuk sanitasinya secara langsung berkorelasi dengan kualitas hidup.

Untuk itu, gerakan menjaga kualitas lingkungan bisa dilakukan dengan beragam cara. Menjaga hutan, sumber mata air, dan menekan polusi udara merupakan bentuk nyata partisipasi aktif manusia. Selama ini, salah satu hal paling krusial yang sulit ditekan adalah menjaga kualitas  udara. Polusi udara tak saja akibat industri, transportasi, juga akibat tingginya perokok. Walaupun polusi akibat rokok kontribusinya masih rendah namun tetap harus ditekan.

Untuk itu, solusi atas hal ini adalah melakukan kajian dan pendekatan alternatif dalam berbagai hal. Salah satunya mungkin pada produk-produk yang berdampak pada sanitasi udara.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, maka sangatlah mungkin melakukan varian dalam mengolah tembakau. Rokok yang selama ini menjadi produk utama pengolahan tembakau kini mesti dikembangkan. Ini tentu harus kita dukung mengingat jumlah perokok sangat tinggi. Di sisi lain, rokok juga masih menjadi sumber pendapatan strategis negeri ini.

Baca juga:  30 Ribu Inovasi Pemberdayaan Ekonomi Desa Dipamerkan di GWK

Pada dasarnya, apa pun aktivitas dan peran kita di dunia ini tanggung jawab moral menjaga lingkungan haruslah dibangun. Kita tentu tak bisa mengabaikan hal ini mengingat kita punya kontribusi nyata dalam hal ini. Setidaknya, pada tahap sederhana kita harus bergerak memproduksi dan menikmati produk-produk yang ramah lingkungan. Semoga perkembangan teknologi bisa memberikan kontribusi kepada kita dalam menjadikan bumi nyaman dan layak menjadi tempat hidup manusia dan habitat lainnya.

Melihat berbagai fenomena di atas, seluruh pengembangan dan inovasi sektor kesehatan khususnya di Bali sangat ditentukan kemauan politik (goodwill) pemerintah daerah. Kendati pro-inovasi, penyusunan kebijakan tentang produk tembakau alternatif adalah sebuah pilihan politik yang berpotensi mengundang pro dan kontra. Yang jelas, pemerintah daerah maupun nasional selalu punya pilihan dalam memperbaiki tingkat kesehatan masyarakat. Pemerintah mestinya menjalankan kebijakan pengaturan rokok dengan memerhatikan aspirasi publik dan realita di lapangan. Pelarangan yang selama ini dengan mengedukasi publik tentang bahaya rokok terbukti tak efektif sama sekali.

Hal lainnya, perlunya pemerintah mendorong atau setidaknya mengadopsi hasil inovasi produk tembakau alternatif melalui kebijakan persuasif yang dibarengi dengan riset lokal, edukasi dan akses seluas-luasnya kepada publik untuk mengetahui informasi mengenai suatu produk.

Meski belum tuntas, pendekatan ini sudah terbukti efektif menurunkan prevalensi merokok dan risiko kesehatan di berbagai negara maju. Akhirnya, semua kembali pada kemauan politik pemerintah dan pemangku kepentingan lain yang berwenang.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.