DENPASAR, BALIPOST.com – Indri Mantari Momo Umbu Lado (29) sejak Juli 2018 memutuskan bergabung menjadi driver Gojek. Ia hidup tanpa orang tua di Bali. Orang tuanya tinggal di Sumba Timur, NTT, sementara sejak 5 tahun lalu ia hijrah ke Bali untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.

Hidup jauh dari orang tua tidaklah mudah. Ia harus mandiri dalam berbagai hal, mulai dari mengurus diri sendiri hingga mencari uang. Demikian pula untuk menambah-nambah uang kuliahnya, Indri harus bekerja.

Berbagai pekerjaan pernah dilakoninya, mulai dari SPG, marketing, sales hingga surveyor. Semua dijalani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Bali.

Meski orang tuanya menanggung biaya kuliahnya di Bali, namun ia tetap ingin bekerja agar banyak pengalaman bisa diperolehnya. “Saya ingin banyak pengalaman, uang kuliah ditanggung sih,” tandasnya.

Menjadi driver Gojek sudah keinginannya cukup lama karena dengan menjadi driver, ia bisa mengatur waktunya lebih fleksibel. Apalagi ia sedang mengikuti pendidikan sehingga pendidikannya menjadi nomor satu. “Ketika mau kerja ya.. hidupkan aplikasi, tapi kalau mau kuliah atau mau libur, tinggal matikan aplikasi,” ungkapnya belum lama ini.

Mahasiswa S2 Ekonomi Manajemen Universitas Udayana yang sudah masuk tahap akhir studi ini sedang mencari-cari pekerjaan. Belum ada perusahaan yang tepat baginya.

Maka dari itu ia memutuskan Ngojek. Awalnya ia tidak percaya dengan hasil menjadi driver Gojek.

Ia semula berpikir hasil ngojek pasti tidak sebanding dengan jerih payahnya bekerja. Namun setelah dicoba, hasilnya memuaskan.

Paling tidak Rp 100.000 – Rp 200.000 bisa ia dapat dalam sehari. Itup un ia bekerja tidak dalam keadaan terpaksa. “Dari dulu sudah ingin bergabung di Gojek namun masih terkendala dengan kuliah,” ujarnya.

Baca juga:  Bekerja Sambil Dengar Musik, Ini Manfaatnya

Wanita asal Sumba Timur, NTT ini merasa bisa mengatur penghasilan yang diinginkan saat menjadi driver Gojek. “Penghasilan bisa saya atur sendiri. Kalau mau dapat banyak ya.. kerja full seharian. Kalau mau Rp 100.000-Rp 200.000, kerjanya setengah hari saja tidak masalah, jadi engga tertekan,” pungkasnya.

Sehar-hari, ia biasa bekerja dari pukul 10.00 sampai pukul 19.00. Dalam rentang waktu itu, ia bisa mendapat Rp 500.000 per hari. Jika mencapai 25 poin, maka bonus pun bisa ia peroleh. “25 poin itu bisa 17 orderan atau lebih tergantung nilai orderannya,” imbuhnya.

Pada hari libur atau weekend, ia mulai bekerja dari pukul 17.00 bisa sampai tengah malam, karena jam-jam itu menurutnya banyak pengguna jasa Gojek.

Aplikasi Gojek ini dikatakan sangat membantu. Karena ia tidak perlu menawarkan pada orang untuk layanan jasa ojeknya. Aplikasi telah bekerja mencarikan orderan bagi para driver Gojek.

Persentase keuntungan antara driver dengan perusahaan Gojek pun setimpal. Dari pembayaran customer atas jasa Gojek, driver menjadapat 80 persen sedangkan perusahaan Gojek 20 persen. “Kalau ojek konvensional kita mesti menawarkan jasa ojek pada customer. Sedangkan dengan aplikasi Gojek, kita tidak perlu menawarkan lagi. Kalau ada orderan, langsung jalan,” jelasnya.

Menurutnya sangat menguntungkan menjadi driver ojek dengan aplikasi, karena sangat memudahkan para driver. Selain kepastian orderan, juga tarif sudah jelas ditentukan.

Sehingga tidak ada yang dirugikan baik konsumen maupun driver. Tarif pun tergantung jarak tempuhnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.